bccfbdg

Archive for May, 2012|Monthly archive page

“Layar Tancap Pinggiran Rel Cicukang”, sebuah catatan tentang program Kampung Kreatif Cicukang.

In tulisan kreatif on May 27, 2012 at 2:01 pm

LAYAR TANCAP PINGGIRAN REL CICUKANG

Dipinggir rel kereta yang lalu lalang puluhan anak-anak,remaja dan para orang tua berbondong-bondong menuju layar yang dibentangkan di gang sempit selebar 3,5 langkah di depan rumah warga kampung Cicukang. Malam ini akan digelar film layar tancap yang kedua kalinya yang berjudul Laskar Pelangi yang berkisahkan perjuangan anak-anak desa dalam menghadapi sukarnya mendapatkan kesempatan bersekolah, disebabkan minim dan mahalnya sarana belajar yang memadai di Pulau Belitung. Hal itu berbeda tipis dengan keadaan anak-anak dan remaja Cicukang yang rata-rata sukar mengenyam pendidikan di sekolah yang bersarana kurang memadai di kota Bandung. Para warga yang akan menonton sangat riang dan bersemangat mendekati tempat pemutaran film. Dari wajah dan gerak-gerik mereka terpancar sukacita berbalut kerinduan yang mendalam pada suasana dan nuansa yang sukar ditemui di tengah zaman yang canggih dan serba mahal masa kini. Karena pemutaran film massal seperti itu sudah hilang pada masa kini selain harus pergi ke bioskop yang komersil dengan harga tak terjangkau. Memang belasan tahun silam layar tancap menjadi hiburan primadona sekaligus media pergumulan bagi masyarakat dari segala kalangan di kampung-kampung dan perkotan di tanah air. Namun, seiring berkembangnya teknologi yang merubah pula gaya hidup membuat layar tancap kehilangan ruang di tengah kehidupan masyarakat. Kehadiran tv, internet dan handphone yang tersebar luas di samping mutu layanan yang ditampilkannya mengikis ruang perjumpaan manusia secara nyata, dekat, langsung dan massal. Dampaknya, kini pergaulan semakin senjang di tengah khalayak. Orang-orang mengalami keterbatasan berbicara dan bertatap muka disebabkan penghematan dan mahalnya biaya menggunakan sarana berhubungan antar manusia. Berbeda dengan suasana “Pemutaran Film Layar Tancap” dan kegiatan massal lainnya yang terjangkau bagi masyarakat dari segala kalangan seperti yang terjadi di Kampung Cicukang. Pemutaran film layar tancap di akhir pekan ini menarik minat warga Cicukang dari segala batas usia dan latar belakang.

Sebelum pemutaran film yang dimulai pukul 20.10, acara diawali dengan pemutaran video konser dangdut yang mengundang warga yang menyebut kampung mereka dengan istilah “Kampung Lokomotiv”. Warga berbondong-bondong melangkah sambil bertatap wajah, berbincang, berhenti lalu berjoget mengikuti irama musik dangdut saat menuju tempat pemutaran film. Selama 20 menit menunggu pemutaram film Laskar Pelangi, para penonton menikmati video musik dangdut sambil berjoget ala Cicukang. Saat pemutaran film berlangsung, para penonton yang sebagian besar remaja, anak-anak dan beberapa orang tua tampak berbincang sesekali, kemudian berlalu-lalang mencari tempat yang dirasa nyaman untuk menikmati pemutaran film. Tempat yang sempit dan sangat sederhana di gang sempit depan rumah dan kios kecil tidak menyurutkan upaya menyaksikan film yang digelar. Beberapa diantaranya ada yang menonton dari rel kereta, dari teras rumah dan di atas hamparan tikar. Para penonton cukup terpukau dan terharu dengan cerita film yang mewakili pula nasib mereka di tengah sulitnya menjangkau pendidikan yang layak. Setelah film berakhir, para panitia yang juga remaja kampung Cicukang, bekerja sama membereskan, membersihkan dan menata tempat pemutaran film seperti semula ketika pemutaran film akan dilakukan dengan dibantu pula oleh beberapa ibu-ibu. Setelah itu, para remaja berkumpul guna membahas kegiatan-kegiatan yang akan memajukan kampung Cicukang ke depan. Mereka antusias membahas upaya-upaya kesenian yang produktif dan inovatif mulai dari musik dapur, kegiatan belajar kelompok, pelatihan tari, kajian sastra dan pelatihan teater dimana semua itu akan menjadi unsur peningkatan taraf hidup warga kampung Cicukang. Tempat di pinggir rel tersebut menjadi pusat berkumpul malam minggu ini bagi warga “Kampung Lokomotiv”.

Dari peristiwa “Pemutaran Film Layar Tancap” di Kampung Cicukang tersebut, kita dapat menemukan kembali hal-hal yang sangat berharga seperti keguyuban, suasana hiruk pikuk yang unik di perkampungan padat pinggir rel kereta yang bising dan mengancam lalu lintas manusia, rasa riang untuk menghilangkan kejenuhan, semangat tolong menolong dalam mempersiapkan segala yang berkaitan dengan kebutuhan hidup bersama, tenggang rasa, mengembangkan denyut perniagaan lewat wisata kesenian, penghematan energi seperti listrik dan biaya transportasi bila harus keluar kampung guna menikmati hiburan di akhir pekan, pemeliharaan ketertiban, kebersihan dan keindahan lingkungan serta hal-hal lain yang bisa memacu masyarakat menciptakan ruang daya cipta yang lebih baik. Hal itulah yang kini tergerus dari kebiasaan hidup masyarakat khususnya warga kampung Cicukang yang harus ditinjau dan dibangkitkan kembali ruang karya cipta untuk peningkatan taraf hidupnya.

Bandung, 26 Mei 2012

BCCF & Tim Advokasi Kampung Kreatif

Advertisements

STUDIA HUMANIKA : Diskusi & Pameran Konsep Kampung Kota dengan tema “Kampung Kota, Harapan Ruang Publik”

In informasi program on May 27, 2012 at 1:44 pm

Sampurasun

Bandung Creative City Forum (BCCF) bekerjasama dengan YPM Salman ITB mengundang sahabat komunitas di salah satu program Akupuntur Kota (Kampung Kreatif 2012) yaitu

STUDIA HUMANIKA
Diskusi & Pameran Konsep Kampung Kota

TEMA
“Kampung Kota, Harapan Ruang Publik”

TEMPAT
Simpul Space II BCCF / Boemi Nini
Jalan Purnawarman No 70
Bandung

LATAR BELAKANG 
Bandung adalah wajah kota besar Indonesia yang terus bertumbuh dengan pesat. Sebagai sebuah kota, Bandung (dan juga kota-kota besar lainnya) senantiasa membutuhkan ruang publik. Secara umum, ruang publik adalah ruang yang secara fisik maupun sosial dapat diakses oleh setiap warga kota, apapun latar belakang sosial-budaya maupun agamanya, untuk rupa-rupa kegiatan.

Pertumbuhan kota-kota besar di Indonesia sayangnya cenderung berpihak kepada masyarakat kelas menengah ke atas, dan meminggirkan masyarakat menengah ke bawah. Akibatnya fungsi ruang publik semakin melemah di perkotaan. Contoh yang paling gamblang adalah menyusutnya area-area terbuka seperti lapangan dan taman kota di Bandung. Area-area tersebut kerap beralih fungsi menjadi pusat perbelanjaan, kompleks permukiman atau perkantoran yang notabene hanya diperuntukkan bagi kalangan atas.

Namun, di tengah kecenderungan pertumbuhan seperti itu, masih ada harapan akan munculnya ruang-ruang publik di perkotaan. Harapan ini muncul dari wilayah-wilayah yang terselip di antara glamornya gedung-gedung perkotaan. Masyarakat di wilayah ini masih memiliki keterikatan sosial sedemikian rupa, yang mencirikan perkampungan tradisional. Karena itu, wilayah-wilayah yang terselip ini dapat disebut sebagai “kampung kota”.

Diskusi ini diharapkan dapat membangun pemahaman bersama tentang keberadaan, potensi dan permasalahan kampung kota. Pemahaman kolektif tersebut diharapkan dapat menjadi stimulus bagi para aktivis, pemerintah, dan masyarakat, untuk menghasilkan gagasan-gagasan segar terkait kemasyarakatan dan ruang publik di perkotaan.

MATERI & PEMBICARA
1. “Politik Warga dan Fenomena Sosial Ruang Publik di Kampung Kota” 
SETIAJI PURNASATMOKO
Kamis (31/05) pkl. 14-16 WIB
2. “Ruang Publik dan Seni Publik” 
YASRAF AMIR PILIANG
Jumat (01/06) pkl. 15.30-18 WIB
3. “Sejarah dan Budaya Kampung Kota” 
JAKOB SOEMARDJO
Sabtu (02/06) pkl. 15.30-18 WIB
4. “Ruang Ketiga di Kota Bandung” 
DHIAN DAMAJANI
Kamis (07/06) pkl. 14-16 WIB
5. “Dampak Media pada Psikologi Masyarakat Kampung Kota” 
HAWE SETIAWAN
Jumat (08/06) pkl. 15.30-18 WIB
6. “Kreativitas dan Humanitas dalam Kampung Kota” 
PRIMADI TABRANI
Sabtu (09/06) pkl. 15.30-18 WIB

FASILITAS
Acara ini terbuka untuk umum dan gratis. Namun peserta akan memperoleh sertifikat, handout (jika disediakan pembicara), dan snack jika membayar biaya pendaftaran.

PENDAFTARAN 
Langsung ke Sekretariat DPP Salman ITB setiap hari pukul 10:00-17:00 WIB. Biaya pendaftaran Rp. 50.000,00 (Lima Puluh Ribu Rupiah).

Informasi lebih lanjut, kontak Anis (0857-941-73686) atau kirimkan e-mail ke: studia.humanika@salmanitb.com.

Bandung CreACTive : Road to Kampung Kreatif 2012 ; Kampung Dago Pojok – Sabtu 9 Juni 2012

In informasi program on May 19, 2012 at 2:27 am

Sampurasun

Mahasiswa Humas A 2009 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran bekerjasama dengan Bandung Creative City Forum (BCCF) mengundang sahabat komunitas di program

Bandung CreACTive 
Road To Kampung Kreatif 2012

TEMPAT
Kampung Dago Pojok
Bandung
Indonesia

WAKTU
Sabtu 9 Juni 2012
Pukul 09.00 s/d 22.00 WIB

AGENDA
Festival Kaulinan Barudak
Festival Layang-Layang

PENGISI ACARA
Saung Angklung Udjo
Rumah Musik Harry Roesli (RMHR)
Karinding Riot
Seni Kampung Kreatif

RUNDOWN ACARA
* Panggung

Waktu Durasi Acara
07.00 Registrasi Peserta Lomba SD + layangan
07.30 – 08.15 45′ Pembukaan (iring-iringan)
08.16 – 08.21 5′ Sambutan ketua pelaksanaan
08.22 – 08.27 5′ Sambutan ketua jurusan
08.28 – 08.33 5′ Sambutan perwakilan pihak Dago Pojok
08.34 – 08.39 5′ Sambutan perwakilan pihak BCCF
08.40 – 08.47 7′ Sambutan perwakilan pihak Rektorat
08.48 – 08.55 7′ Sambutan Walikota Bandung
08.56 – 09.03 7′ Sambutan Menteri Perindustrian
09.04 – 09.11 7′ Sambutan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
09.12 – 09.20 8′  Ceremony pembukaan acara yang dipimpin oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif beserta Menteri Perindustrian
09.21 – 09.30 9′ MC menyapa pengunjung dan memperkenalkan area Bandung CreactiveMC memberitahukan kegiatan pembukaan Kaulinan Barudak di area kaulinan barudak
10.00 – 10.30 30′ Performance Jaipong dari Dago Pojok
10.31 – 10.36 15′ Performance Calung dari Dago Pojok
10.37 – 11.00 23′
  • MC membaur dengan pengunjung sambil mempertunjukan permainan-permainan khas
  • Kuis interaktif
11.01 – 11.31 30′ Penampilan RT 07 (Celempung)
11.32 – 11.38 6′ Penampilan dari SD
11.39 – 11.45 6′ Penampilan dari SD
11.46 – 12.30 74′ Isoma
12.31 – 12.37 6′ Penampilan dari SD
12.38 – 12.44 6′ Penampilan dari SD
12.45 – 12.51 6′ Penampilan dari SD
12.52 – 12.58 6′ Penampilan dari SD
12.59 – 13.05 6′ Penampilan dari SD
13.06 – 13.12 6′ Penampilan dari SD
13.13 – 13.19 6′ Penampilan dari SD
13.20 – 13.26 6′ Penampilan dari SD
13.27 – 13.33 6′ Penampilan dari SD
13.34 – 13.40 6′ Penampilan dari SD
13.41 – 13.47 6′ Penampilan dari SD
13.48 – 14.48 60′ Penampilan penduduk Dago Pojok
14.49 – 15.20 31′ Break + isoma
15.21 – 16.01 40′ Performance Reog dari Dago Pojok
16.02 – 16.32 30′ Performance Karinding Riot
16.33 – 17.03 30′ Performance RMHR
17.04 – 17.13 7′ Performance Pencak Silat Saung Angklung Udjo
17.14 – 17.29 15′ Pengumuman perlombaan (Oleh personil pencak silat Saung Angklung Udjo)
17.30 – 17.50 20′ Performance Saung Angklung udjo (Angklung Arumba)

* Festival Layangan & Kaulinan

Waktu Durasi Acara Lokasi
07.00 Registrasi Peserta Lomba SD + layangan Area Permainan Tradisional
07.30 – 08.15 45′ Pembukaan (iring-iringan) Panggung
08.16 – 08.21 5′ Sambutan ketua pelaksanaan Panggung
08.22 – 08.27 5′ Sambutan ketua jurusan Panggung
08.28 – 08.33 5′ Sambutan perwakilan pihak Dago Pojok Panggung
08.34 – 08.39 5′ Sambutan perwakilan pihak BCCF Panggung
08.40 – 08.47 7′ Sambutan perwakilan pihak Rektorat Panggung
08.48 – 08.55 7′ Sambutan Walikota Bandung Panggung
08.56 – 09.03 7′ Sambutan Menteri Perindustrian Panggung
09.04 – 09.11 7′ Sambutan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Panggung
09.12 – 09.20 8′  Ceremony pembukaan acara yang dipimpin oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif beserta Menteri Perindustrian Panggung
09.21 – 09.56 35′ Pembukaan Kaulinan Barudak

  • Penampilan Gondang (20′)
  • Penampilan Kawihan (15′)
Area Permainan Tradisional
09.57 – 10.27 30′ Demonstrasi Kaulinan Barudak Area Permainan Tradisional
10.28 – 10.58 30′ Lomba kaulinan barudak grup 1,2,3 Area Permainan Tradisional
10.59 – 11.29 30′ Lomba kaulinan barudak grup 4&5 Area Permainan Tradisional
11.30 – 12.00 30′ Lomba kaulinan barudak grup 6&7 Area Permainan Tradisional
12.01 – 12.30 29′ Isoma All Area
12.31 – 13.01 30′ Lomba kaulinan barudak grup 8&9 Area Permainan Tradisional
13.02 – 13.32 30′ Lomba kaulinan barudak grup 10&11 Area Permainan Tradisional
13.33 – 14.03 30′ Lomba kaulinan barudak grup 12&13 Area Permainan Tradisional
14.04 – 14.25 21′ Persiapan parade layangan Area Layangan
14.26 – 14.35 9′ Pembukaan parade layangan Area Layangan
14.36 – 15.20 44′ Isoma All Area
15.21 – 16.21 60′ Mulai menggambar layangan Area Layangan
16.22 – 17.02 40′ Penerbangan layangan Area Layangan
17.03 – 17.13 10′ Pemindahan konsentrasi ke area panggung Venue
17.14 – 17.30 26′ Pengumuman lomba kaulinan barudak Panggung
Pengumuman lomba lukis layangan Panggung

INFO LANJUT
Bandung Creative City Forum/BCCF
Simpul Space II
Jalan Purnawarman 70
Bandung
Telp/fax: (62-22) 253 4746
Email : bccf.bdg@gmail.com
Blog : http://www.bandungcreativecityforum.wordpress.com
Twitter @BCCF_bdg

Artikel Berita program pendukung Kampung Kreatif hasil kolaborasi Fakultas Ilmu Komunikasi UNPAD & BCCF

In artikel & berita on May 18, 2012 at 10:52 am

http://bandung.detik.com/read/2012/05/17/143008/1919232/486/humas-a-fikom-unpad-akan-menggelar-bandung-creactive

Bandung – Mahasiswa Humas A 2009 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran bekerjasama dengan Bandung Creative City Forum (BCCF) akan menggelar ‘Bandung CreACTive : Road To Kampung Kreatif 2012’. Kegiatan tersebut akan digelar Sabtu (9/6/2012) mendatang di Kampung Dago Pojok.

Chief of Public Relations, Levana Kharisma Utami mengatakan, acara menampilkan seni dan budaya ini memiliki dua konten utama.

“Yang pertama festival Kaulinan Barudak, yang kedua festival Layang-Layang. Untuk melengkapi event ini, kami juga menghadirkan pentas seni budaya sebagai bentuk apresiasi kami terhadap kegiatan seni dan budaya yang sudah dilakukan para pegiat seni di Kota Bandung,” ujar Levana saat dihubungi detikbandung, Kamis (17/5/2012).

Levana menambahkan, Bandung CreACTive ini merupakan salah satu kegiatan pendukung program ‘Kampung Kreatif’. “Ini merupakan implementasi dari program ‘Akupunktur Kota’. Tujuannya sebagai pemberdayaan kreatifitas warga kampung-kampung urban di kota yan diharapkan bisa membantu pemberdayaan ekonomi masyarakat di kota Bandung,” terang Levana.

Festival Kaulinan Barudak yang akan diadakan dalam event ini bertujuan untuk memperkenalkan permainan tradisional Jawa Barat yang merupakan warisan budaya yang menarik dan bermanfaat bagi perkembangan anak-anak.

Konten acara ini akan dilengkapi dengan dua area utama, yang pertama adalah Area Bermain dan Area Pameran. Sedangkan Festival Layang-Layang merupakan kompetisi pengekspresian ragam kreatifitas melalui salah satu kegiatan permainan yang mungkin sudah dianggap kuno namun tetap menarik.

Gelaran ini juga akan dimeriahkan oleh penampilan dari Saung Angklung Udjo, Rumah Musik Harry Roesli (RMHR), Karinding Riot dan Penampilan Seni Kampung Kreatif. Selain itu, akan ada pentas seni budaya dengan menampilkan berbagai kesenian tradisional yang ditawarkan kampung-kampung kreatif.

Tidak hanya itu, Bandung CreACTive memiliki Area Bazaar, dimana pada area ini akan dipamerkan berbagai kreasi industri-industri kreatif dan juga kuliner khas Kampung Kreatif yang dapat dinikmati oleh seluruh pengunjung. 

Kampung Seni Lokomotif Cicukang

In tulisan kreatif on May 18, 2012 at 3:01 am

KAMPUNG SENI LOKOMOTIF CICUKANG

Malam itu pukul 20.47 kita tiba di kampung Cicukang untuk menggelar nonton film layar tancap bersama di lapangan pinggir rel kereta api pinggiran kampung Cicukang. Para warga yang terdiri dari anak-anak, remaja, ibu-ibu dan bapak-bapak sangat antusias berkumpul menunggu pemutaran film masa perang pasca proklamasi berjudul serangan umum 11 maret di yogyakarta. Suasana begitu riuh dan ramai saat persiapan peralatan pemutaran film. Para penonton yang sebagian besar anak-anak dan ibu-ibu segera mendekat ke belakang proyektor, langsung duduk merapat seperti semut menggerogoti manisan. Beberapa saat ketika film dimulai, suasana riuh berubah menjadi hening sebab adegan awal film mampu memukau penonton. Sepertinya ada kerinduan pada suasana masa lalu, ketika pemutaran film layar  tancap sedang marak-maraknya 14 tahun yang lalu. Cerita film terus berlalu dengan suasana perang  yang makin menegangkan, meski kadang-kadang kereta melintas sampai 4 kali di tengah-tengah pemutaran film berlangsung, namun para penonton tetap fokus pada cerita film. Suara kereta yang gaduh dan berbahaya sudah menjadi bagian suasana keseharian warga di cicukang yang tidak begitu risau dan was-was tak layaknya kita yang baru dan masih jarang kesana. Di tengah film berlangsung tiba-tiba gerimis turun, namu para penonton film tidak bubar. Begitulah jalannya pemutaran film yang disambut begitu antusias oleh warga kampung lokomotiv Cicukang.

Hasil observasi ke-1

Suasana kampung: ramai, padat, bising(dekat rel kereta), dinamis, liar, guyub,

Bentuk kampung: rumah padat, gang sempit, pinggir rel kereta, dekat pasar, sekitar pabrik, sepanjang rel kereta api tampang remang sebab pencahayaan sangat minim.

Peranan keorganisasian: kepengurusan ada tapi belum efektif, tidak adanya keterlibatan perempuan

Pekerjaan warga: buruh, pedagang

Kesenian: nasyid, rebana, kasidah,calung(vakum),sandiwara sunda(vakum),musik dapur

Pendidikan: SMP ,SD

Masalah: pernah terjadi beberapa kali tawuran dengan suporter sepak bola di atas kereta yang lewat. Adegan saling lempar sampai menimbulkan korban luka serius

Karakter warga: cukup ramah, keras

Kecenderungan: kumpul tiap sore di rel kereta dan antusias melihat kereta lewat, anak-anak terbiasa bermain dan menjadikan rel kereta sebagai ruang bermain

Program yang sedang berjalan: mural di dinding rumah warga, masih di beberapa rumah yang dekat dengan rel(10%), nonton film bersama yang pertama

Kamis, 17 Mei 2012
Bandung Creative City Forum/BCCF
Tim Advokasi Kampung Kreatif

Fenomena Kampung Akustik

In tulisan kreatif on May 18, 2012 at 2:49 am

(c) galih sedayu-bccf

Fenomena Kampung Akustik

Di belakang pasar cicadas tepatnya di belakang rumah sakit santo yusuf, disanalah para urban berkumpul dalam menjalani hari-hari penuh warna seperti warna-warna yang terlukis pada gambar (mural) di tembok depan rumah mereka yang menghipnotis setiap pengunjung dengan semangat keindahan dan dinamika dari realita hidup yang sangat berkesan. Dari mural rata-rata gambar bercerita tentang musik, seperti gambar gitar yang dan orang bermain gitar, disamping gambar lambang viking yang lebih besar, teks-teks tentang kebersamaan dan gambar pepohonan, bunga dan tanaman. Perkampungan tampak sepi, gang-gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh sepeda motor, gerobak sampah, gerobak tiga roda dan orang-orang yang hilir mudik menuju tujuan dari segala hiruk pikuk. Wajah-wajah yang ramah, penuh canda dan sesekali bernyanyi memeluk waktu yang setia menemani dalam setiap nuansa. Musik, lukisan, sajak dan peristiwa adalah jamuan bahasa mereka kepada setiap orang yang berkunjung. Seperti musik Queen, musik etnis sunda, balada, sajak jenaka menyatu dengan rasa kopi hitam, teh manis dan rangginang di beranda rumah sambil sesekali menghisap rokok. Kadang-kadang mereka terbahak-bahak saat ada bagian obrolan yang dirasa lucu dan aneh meski wajah dan ekspresi mereka tidak begitu ceria. Semua itu selayang wajah kampung yang kini diberi nama “kampung akustik” yang dimotori oleh beberapa seniman, akademisi, aktivis sosial dan warga setempat. Berbeda dengan keadaan 2 bulan sebelumnya, dimana kebiasaan para remajanya yang sering menenggak minuman keras dan melakukan tindakan premanistik.

Senyum kesederhanaan adalah jawaban dari sulitnya ekonomi sementara waktu ketika pekerjaan mapan susah sekali didapatkan. Mengamen, berjualan di pasar, mengayuh becak, mencipta lagu, menjadi kuli pasar ataupun buka warnet meski bangkrut pun adalah bentuk dari optimisme kemandirian dari warga kampung akustik di tengah asingnya pendidikan dan mahalnya barang kebutuhan masa kini. Status pendidikan dan minimnya keahlian tidak membuat langkah mereka surut untuk terus menggapai buah-buah keringat walaupun harus “berjudi dengan peluang” seperti yang kini coba diupayakan oleh kang Diat seorang diantara warga “Kampung Akustik”. Ia sedang mengupayakan karya ciptaannya berupa lagu sunda, namun dia tidak begitu mengharapkan hasil yang maksimal dari karyanya tersebut. Baginya, hasil tidaklah begitu penting, yang penting ia punya usaha dan eksistensi dalam berkesenian. Karya dapat disebarkan ke publik pun ia sudah cukup bangga. Demikian halnya dengan warga kampung akustik lainnya yang rata-rata sama tidak punya pekerjaan tetap dan penghasilan yang terjamin seperti profesi pns, polisi, tentara dan pejabat publik yang upah dan penghasilannya sudah cukup, stabil bahkan di atas rata-rata. Penghasilan dari ngamen, parkir, menarik becak, kuli angkut pasar dan melukis yang omzetnya tidak pasti dan cenderung tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari apalagi kebutuhan rekreasi dan hiburan. Sehingga bagi mereka, hiburannya adalah berkumpul sambil berkelakar, bernyanyi, melukis mural di tembok-tembok, membersihkan gang dan selokan dari sampah. Kondisi lingkungan yang padat, jalan sempit, dekat hiruk pikuk pasar dan tembok pembatas gedung tinggi dan panjang mempengaruhi pula karakter dan tingkah laku yang keras, tegang, liar dan bebas lepas pada sebagian diantara mereka. Hal tersebut dapat dilihat dari lirik-lirik lagu yang dinyanyikan, dimana ada kegundahan pada kondisi ruang dan peristiwa. Seperti kalimat; “hujan terlampau jarang turun di tanah kita yang cadas, hingga kerikil tajam menyiksa mata saat memandang”.

Diantara pemuda disana masih terdapat kubu-kubu, namun tidak menjadi hal yang bersifat permusuhan ataupun konflik internal. Para pemuda terbiasa berkumpul di depan kios-kios dan beranda rumah di gang-gang salah satu diantara mereka sambil berkelakar untuk mengisi waktu kosong dan mengusir jenuh. Rata-rata pemuda di kampung kreatif hanya mengenyam sekolah formal sampai SMP dan SMA. Sebagian besar pemudanya adalah suporter PERSIB yang akrab disebut viking.
Begitulah keadaan warga kampung akustik sementara ini, yang terus berjuang dengan sangat antusias pada kesenian khusunya gambar dan musik, dimana warga mengharapkan kampung akustik menjadi kampung wisata seni yang akan mampu mendongkrak taraf hidup menjadi beradab dan sejahtera.

Bandung, 16 mei 201
Bandung Creative City Forum/BCCF
Tim Advokasi Kampung Kreatif

YES!club.Bdg sesi #12 – Jumat 11 Mei 2012, Simpul Space II

In informasi program on May 7, 2012 at 5:39 am

Halo semuanya!

Kita sudah hampir tiba di penghujung program YES!club.Bdg 2011-2012. Jumat tgl 11 Mei 2012 nanti merupakan sesi terakhir dari rangkaian program dua-mingguan YES!club.Bdg kali ini, dan akan dilaksanakan dalam bentuk yang berbeda. Sebagai mentor, akan hadir lagi Pak Irvan Noe’man yang pernah memberi tugas “body storming” di sesi awal program YES!club.Bdg, kali ini akan memberi pengantar ttg sesi final sekaligus ‘wrapping up’ program YES!club.Bdg 2012.
Namun acara utama sesi final tersebut adalah akan diadakannya kolaborasi dengan tim “Subjektif”, yaitu sekelompok desainer produk yang akan menggelar ‘klinik desain’ gratis, diprioritaskan bagi para peserta YES!club.Bdg namun juga terbuka bagi teman-teman BCCF yang ingin memanfaatkan sesi ini.

Para peserta YES!club.Bdg dapat melakukan konsultasi desain untuk wirausaha masing-masing, mulai dari hal kemasan, branding, dsb. ke tim tersebut dalam sebuah workshop. Hasilnya akan dipresentasikan di pameran bertajuk “Subjektif” yang akan digelar di SimpulSpace#2, mulai tgl 12 Mei 2012.
Maka dari itu, jangan lewatkan sesi terakhir ini!

Mari saling berjejaring untuk berkembang lebih pesat!
Sampai jumpa 🙂

Acara: YES!club.Bdg sesi #12
Tempat: SimpulSpace#2, Jl. Purnawarman 70, Bandung
Hari, tanggal: Jumat 11 Mei 2012

Rundown acara:
15:00-15:30 Pendaftaran peserta
15:30-16:00 Pengantar workshop: Irvan Noe’man
16:00-18:00 Workshop dengan mentor + tim “Subjektif”

“SUBJEKTIF” – ajang bercerita mengenai pemahaman tentang ilmu desain produk dari perspektif individu desainer produk muda.

In informasi program on May 7, 2012 at 3:08 am

…Sebuah narasi desain produk,

“SUBJEKTIF” merupakan suatu ajang bercerita mengenai pemahaman tentang ilmu desain produk dari perspektif individu desainer produk muda. Pemahaman ini disampaikan dalam bentuk karya kebendaan yang dirancang sesuai minat dan ketertarikan masing-masing individu tersebut.

“SUBJEKTIF” diadakan dengan tujuan memberikan ruang bagi individu untuk menyampaikan gagasannya mengenai desain kepada masyarakat.

menghadirkan beberapa karya dari desainer- desainer muda yang berdasarkan idealisme masing- masing

Exhibitor:
Adhi Kurniawan
Akbar Prima Nurman
Alvin Yudhistira Chandra
Derri Abraham
Dhany Saballini
Gilang Aditya
Mohammad Rizky Ardiansyah
Muhammad Hajid Annur
Nico Ramadika
Nindya Nareswari
Tubagus Ahmad D.P.

12 Mei – 20 Mei 2012
Boemi Nini, Purnawarman 70 Bandung

Opening: Sabtu 12 Mei 2012, 19.00 WIB
Closing: Minggu 20 Mei 2012, 19.00 WIB