bccfbdg

Fenomena Kampung Akustik

In tulisan kreatif on May 18, 2012 at 2:49 am

(c) galih sedayu-bccf

Fenomena Kampung Akustik

Di belakang pasar cicadas tepatnya di belakang rumah sakit santo yusuf, disanalah para urban berkumpul dalam menjalani hari-hari penuh warna seperti warna-warna yang terlukis pada gambar (mural) di tembok depan rumah mereka yang menghipnotis setiap pengunjung dengan semangat keindahan dan dinamika dari realita hidup yang sangat berkesan. Dari mural rata-rata gambar bercerita tentang musik, seperti gambar gitar yang dan orang bermain gitar, disamping gambar lambang viking yang lebih besar, teks-teks tentang kebersamaan dan gambar pepohonan, bunga dan tanaman. Perkampungan tampak sepi, gang-gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh sepeda motor, gerobak sampah, gerobak tiga roda dan orang-orang yang hilir mudik menuju tujuan dari segala hiruk pikuk. Wajah-wajah yang ramah, penuh canda dan sesekali bernyanyi memeluk waktu yang setia menemani dalam setiap nuansa. Musik, lukisan, sajak dan peristiwa adalah jamuan bahasa mereka kepada setiap orang yang berkunjung. Seperti musik Queen, musik etnis sunda, balada, sajak jenaka menyatu dengan rasa kopi hitam, teh manis dan rangginang di beranda rumah sambil sesekali menghisap rokok. Kadang-kadang mereka terbahak-bahak saat ada bagian obrolan yang dirasa lucu dan aneh meski wajah dan ekspresi mereka tidak begitu ceria. Semua itu selayang wajah kampung yang kini diberi nama “kampung akustik” yang dimotori oleh beberapa seniman, akademisi, aktivis sosial dan warga setempat. Berbeda dengan keadaan 2 bulan sebelumnya, dimana kebiasaan para remajanya yang sering menenggak minuman keras dan melakukan tindakan premanistik.

Senyum kesederhanaan adalah jawaban dari sulitnya ekonomi sementara waktu ketika pekerjaan mapan susah sekali didapatkan. Mengamen, berjualan di pasar, mengayuh becak, mencipta lagu, menjadi kuli pasar ataupun buka warnet meski bangkrut pun adalah bentuk dari optimisme kemandirian dari warga kampung akustik di tengah asingnya pendidikan dan mahalnya barang kebutuhan masa kini. Status pendidikan dan minimnya keahlian tidak membuat langkah mereka surut untuk terus menggapai buah-buah keringat walaupun harus “berjudi dengan peluang” seperti yang kini coba diupayakan oleh kang Diat seorang diantara warga “Kampung Akustik”. Ia sedang mengupayakan karya ciptaannya berupa lagu sunda, namun dia tidak begitu mengharapkan hasil yang maksimal dari karyanya tersebut. Baginya, hasil tidaklah begitu penting, yang penting ia punya usaha dan eksistensi dalam berkesenian. Karya dapat disebarkan ke publik pun ia sudah cukup bangga. Demikian halnya dengan warga kampung akustik lainnya yang rata-rata sama tidak punya pekerjaan tetap dan penghasilan yang terjamin seperti profesi pns, polisi, tentara dan pejabat publik yang upah dan penghasilannya sudah cukup, stabil bahkan di atas rata-rata. Penghasilan dari ngamen, parkir, menarik becak, kuli angkut pasar dan melukis yang omzetnya tidak pasti dan cenderung tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari apalagi kebutuhan rekreasi dan hiburan. Sehingga bagi mereka, hiburannya adalah berkumpul sambil berkelakar, bernyanyi, melukis mural di tembok-tembok, membersihkan gang dan selokan dari sampah. Kondisi lingkungan yang padat, jalan sempit, dekat hiruk pikuk pasar dan tembok pembatas gedung tinggi dan panjang mempengaruhi pula karakter dan tingkah laku yang keras, tegang, liar dan bebas lepas pada sebagian diantara mereka. Hal tersebut dapat dilihat dari lirik-lirik lagu yang dinyanyikan, dimana ada kegundahan pada kondisi ruang dan peristiwa. Seperti kalimat; “hujan terlampau jarang turun di tanah kita yang cadas, hingga kerikil tajam menyiksa mata saat memandang”.

Diantara pemuda disana masih terdapat kubu-kubu, namun tidak menjadi hal yang bersifat permusuhan ataupun konflik internal. Para pemuda terbiasa berkumpul di depan kios-kios dan beranda rumah di gang-gang salah satu diantara mereka sambil berkelakar untuk mengisi waktu kosong dan mengusir jenuh. Rata-rata pemuda di kampung kreatif hanya mengenyam sekolah formal sampai SMP dan SMA. Sebagian besar pemudanya adalah suporter PERSIB yang akrab disebut viking.
Begitulah keadaan warga kampung akustik sementara ini, yang terus berjuang dengan sangat antusias pada kesenian khusunya gambar dan musik, dimana warga mengharapkan kampung akustik menjadi kampung wisata seni yang akan mampu mendongkrak taraf hidup menjadi beradab dan sejahtera.

Bandung, 16 mei 201
Bandung Creative City Forum/BCCF
Tim Advokasi Kampung Kreatif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: