bccfbdg

“Layar Tancap Pinggiran Rel Cicukang”, sebuah catatan tentang program Kampung Kreatif Cicukang.

In tulisan kreatif on May 27, 2012 at 2:01 pm

LAYAR TANCAP PINGGIRAN REL CICUKANG

Dipinggir rel kereta yang lalu lalang puluhan anak-anak,remaja dan para orang tua berbondong-bondong menuju layar yang dibentangkan di gang sempit selebar 3,5 langkah di depan rumah warga kampung Cicukang. Malam ini akan digelar film layar tancap yang kedua kalinya yang berjudul Laskar Pelangi yang berkisahkan perjuangan anak-anak desa dalam menghadapi sukarnya mendapatkan kesempatan bersekolah, disebabkan minim dan mahalnya sarana belajar yang memadai di Pulau Belitung. Hal itu berbeda tipis dengan keadaan anak-anak dan remaja Cicukang yang rata-rata sukar mengenyam pendidikan di sekolah yang bersarana kurang memadai di kota Bandung. Para warga yang akan menonton sangat riang dan bersemangat mendekati tempat pemutaran film. Dari wajah dan gerak-gerik mereka terpancar sukacita berbalut kerinduan yang mendalam pada suasana dan nuansa yang sukar ditemui di tengah zaman yang canggih dan serba mahal masa kini. Karena pemutaran film massal seperti itu sudah hilang pada masa kini selain harus pergi ke bioskop yang komersil dengan harga tak terjangkau. Memang belasan tahun silam layar tancap menjadi hiburan primadona sekaligus media pergumulan bagi masyarakat dari segala kalangan di kampung-kampung dan perkotan di tanah air. Namun, seiring berkembangnya teknologi yang merubah pula gaya hidup membuat layar tancap kehilangan ruang di tengah kehidupan masyarakat. Kehadiran tv, internet dan handphone yang tersebar luas di samping mutu layanan yang ditampilkannya mengikis ruang perjumpaan manusia secara nyata, dekat, langsung dan massal. Dampaknya, kini pergaulan semakin senjang di tengah khalayak. Orang-orang mengalami keterbatasan berbicara dan bertatap muka disebabkan penghematan dan mahalnya biaya menggunakan sarana berhubungan antar manusia. Berbeda dengan suasana “Pemutaran Film Layar Tancap” dan kegiatan massal lainnya yang terjangkau bagi masyarakat dari segala kalangan seperti yang terjadi di Kampung Cicukang. Pemutaran film layar tancap di akhir pekan ini menarik minat warga Cicukang dari segala batas usia dan latar belakang.

Sebelum pemutaran film yang dimulai pukul 20.10, acara diawali dengan pemutaran video konser dangdut yang mengundang warga yang menyebut kampung mereka dengan istilah “Kampung Lokomotiv”. Warga berbondong-bondong melangkah sambil bertatap wajah, berbincang, berhenti lalu berjoget mengikuti irama musik dangdut saat menuju tempat pemutaran film. Selama 20 menit menunggu pemutaram film Laskar Pelangi, para penonton menikmati video musik dangdut sambil berjoget ala Cicukang. Saat pemutaran film berlangsung, para penonton yang sebagian besar remaja, anak-anak dan beberapa orang tua tampak berbincang sesekali, kemudian berlalu-lalang mencari tempat yang dirasa nyaman untuk menikmati pemutaran film. Tempat yang sempit dan sangat sederhana di gang sempit depan rumah dan kios kecil tidak menyurutkan upaya menyaksikan film yang digelar. Beberapa diantaranya ada yang menonton dari rel kereta, dari teras rumah dan di atas hamparan tikar. Para penonton cukup terpukau dan terharu dengan cerita film yang mewakili pula nasib mereka di tengah sulitnya menjangkau pendidikan yang layak. Setelah film berakhir, para panitia yang juga remaja kampung Cicukang, bekerja sama membereskan, membersihkan dan menata tempat pemutaran film seperti semula ketika pemutaran film akan dilakukan dengan dibantu pula oleh beberapa ibu-ibu. Setelah itu, para remaja berkumpul guna membahas kegiatan-kegiatan yang akan memajukan kampung Cicukang ke depan. Mereka antusias membahas upaya-upaya kesenian yang produktif dan inovatif mulai dari musik dapur, kegiatan belajar kelompok, pelatihan tari, kajian sastra dan pelatihan teater dimana semua itu akan menjadi unsur peningkatan taraf hidup warga kampung Cicukang. Tempat di pinggir rel tersebut menjadi pusat berkumpul malam minggu ini bagi warga “Kampung Lokomotiv”.

Dari peristiwa “Pemutaran Film Layar Tancap” di Kampung Cicukang tersebut, kita dapat menemukan kembali hal-hal yang sangat berharga seperti keguyuban, suasana hiruk pikuk yang unik di perkampungan padat pinggir rel kereta yang bising dan mengancam lalu lintas manusia, rasa riang untuk menghilangkan kejenuhan, semangat tolong menolong dalam mempersiapkan segala yang berkaitan dengan kebutuhan hidup bersama, tenggang rasa, mengembangkan denyut perniagaan lewat wisata kesenian, penghematan energi seperti listrik dan biaya transportasi bila harus keluar kampung guna menikmati hiburan di akhir pekan, pemeliharaan ketertiban, kebersihan dan keindahan lingkungan serta hal-hal lain yang bisa memacu masyarakat menciptakan ruang daya cipta yang lebih baik. Hal itulah yang kini tergerus dari kebiasaan hidup masyarakat khususnya warga kampung Cicukang yang harus ditinjau dan dibangkitkan kembali ruang karya cipta untuk peningkatan taraf hidupnya.

Bandung, 26 Mei 2012

BCCF & Tim Advokasi Kampung Kreatif

  1. top……………………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: