bccfbdg

Archive for the ‘tulisan kreatif’ Category

Tulisan Singkat & Foto Liputan Grand Launching Bike Sharing oleh Bike.Bdg & BCCF

In foto program, tulisan kreatif on June 22, 2012 at 7:23 am

Launching bike sharing untuk kurangi kemacetan dan sarana pariwisata Bandung.

Komunitas Bike.Bdg bekerjasama dengan Bandung Creative City Forum (BCCF) melakukan peluncuran (Grand Launching) program bike sharing pada tanggal 10 Juni 2012 yang mana sebelumnya sudah dilakukan soft launching. Acara grand launching ini didukung oleh berbagai pihak seperti Pemerintah Kota Bandung, BBC (Buah Batu Corps), Dishub Kota Bandung, Komite Sepeda Indonesia, Bank Jabar, Dinas Pertamanan Kota Bandung, PDAM, dan masih banyak lagi.

Dukungan ini juga terlihat dalam paparan yang dilakukan sebelum Grand Launching sendiri pada tanggal 8 Juni 2012, bertempat di pendopo dan dihadiri oleh pihak-pihak terkait. Paparan dipimpin langsung oleh Walikota Bandung, Dada Rosada. “Saya harap kita semua di sini dapat membantu menyukseskan Grand Launching Bike.Bdg sebagai wujud apresiasi kita akan komunitas yang peduli akan masalah kemacetan di Kota Bandung,” ungkapnya.

Pada acara Grand launching tersebut, komunitas Bike.Bdg melakukan pelepasan 100 balon sebagai simbol peluncuran program bike sharing.  Pelepasan balon tersebut dilakukan oleh Walikota Dada Rosada, Ketua Umum KSI, Dirut Harian Pikiran Rakyat, Sekjen BBC, Dirut Program BCCF Fiki Satari dan penasihat program bike sharing Ridwan Kamil. Di akhir acara Dada Rosada juga sempat mendatangi shelter yang ada dan mensimulasi proses peminjaman sepeda.

Konsep bike sharing ini dibentuk sebagai solusi alternatif untuk penyediaan transportasi sehat dan ramah lingkungan bagi penduduk kota Bandung dengan menyediakan tempat penyewaan sepeda terpadu. Aplikasi konsep ini merupakan pertama kali-nya dilaksanakan pada tingkat kota di Asia Tenggara.

Pemilihan kota Bandung sebagai tempat pengaplikasian program bike sharing ini dirasa tepat dengan mempertimbangkan infrastruktur dan kesiapan masyarakatnya yang sudah terbiasa dengan pemanfaatan sepeda sebagai alat transportasi alternatif. Ridwan kamil sebagai penasihat dalam program ini mengemukakan harapannya, “Program bike sharing harus dapat menjadi solusi dari kemacetan kota Bandung dan juga sebagai alternatif pendukung peningkatan aspek pariwisata kota”.

Untuk tahap pertama program bike sharing akan dilaksanakan di area buah batu dan dago. Saat ini program bike sharing didukung oleh infrastruktur. 10 shelter, 20 petugas pencatat dan 150 sepeda siap disewakan kepada penduduk kota Bandung. Setiap sepeda sedianya akan disewakan seharga Rp 3000 per/jam. Sebagai fungsi pengamanan inventaris, penyewa diwajibkan untuk mencatatkan identitas lengkap dan menunjukan tanda identitas diri yang valid ketika melakukan penyewaan.

Diharapkan untuk kedepannya program bike sharing ini dapat berkembang dengan dukungan masyarakat Bandung, sehingga tahapan-tahapan pengembangan jalur-jalur selanjutnya dapat terealisasi lebih cepat sehingga dapat memenuhi kebutuhan lebih banyak lagi warga Bandung. Selain itu juga diharapkan program bike sharing ini dapat menjadi salah satu alternatif masyarakat kota Bandung dalam mereduksi kemacetan yang sering terjadi. Bike sharing, selain dilaksanakan oleh bike.bdg juga mendapat dukungan dari berbagai komunitas-komunitas sepeda kota Bandung.

Pada tahap pertama ini shelter bike sharing yang sudah tersedia dan akan dioperasikan secara bertahap berada Jl. Cikapayang, dan Jl. Banteng. Serta untuk setiap minggunya akan dilakukan penambahan 2 shelter.

Bike.Bdg
“Ngabring Biking”

Contact Person:
Shitta Natashia Mahachakri
Public Relations of Bike.Bdg
+62818992492

http://bikebdg.com

Twitter: @BikeBdg

(c) APC Institute & BCCF – 2012

Advertisements

LEUWIANYAR SEPI TERKUNGKUNG – Catatan Singkat Program Kampung Kreatif BCCF

In tulisan kreatif on June 14, 2012 at 4:49 am

Leuwianyar Sepi Terkungkung

Suasana kampung yang sepi dari interaksi, aman, normal, cukup kental dengan nuansa keagamaan yang ritualistis (fenomena orang-orang berkerudung dan pengajian rutin di masjid) itulah wajah sebuah kampung yang bernama Leuwianyar di bagian selatan kota Bandung. Bentuk dan denah kampung Leuwianyar adalah gang sempit, berdampingan dengan perumahan, di tengah jalan raya (kopo dan Leuwipanjang), dekat terminal transportasi darat antar kota dan provinsi (Terminal Bus Leuwipanjang). Hal itu menunjukan bahwa kampung Leuwianyar berlokasi strategis karena  berada di sekitar pusat ekonomi yang berdaya jangkau besar dan pesat di kota Bandung. Namun hal itu tidak berpengaruh bagi kampung dan warga Leuwianyar yang terisolasi oleh kemajuan kota tersebut.  Warga Leuwianyar rata-rata bekerja sebagai buruh pabrik, wiraswata (home industri; tempe, tas, siomay), guru komputer, bahasa inggris dan pedagang keliling. Hal tersebut disebabkan oleh faktor pendidikan sebagian besar warga yang hanya lulusan SMA dimana skilnya sangat terbatas dan susah bersaing di dunia kerja. Para warga juga memiliki keterbatasan untuk menjangkau peluang untuk memajukan diri yang tidak tersedia disebabkan minimnya program pemberdayaan masyarakat.

Peranan keorganisasian di Leuwianyar kini sedang vakum karena belum ada yang menggerakkan secara total dan intensiv pada kegiatan-kegiatan yang dapat membina masyarakat ke arah memajukan kampung dan pertumbuhan ekonomi warga setempat. Kegiatan ekonomi masih berjalan sendiri-sendiri dengan keuntungan seadanya yang hanya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Padahal bila dilakukan pengelolaan ekonomi secara berkelompok seperti usulan salah satu tokoh masyarakat (Pak Didin) disana, yaitu koperasi yang rencananya akan dibangun bersama oleh warga Leuwianyar, tentu akan dapat merubah dan memajukan taraf hidup warga Leuwianyar. Warga Leuwianyar memiliki potensi dalam ritual keagamaan (islam), pencaksilat, home industri kerajinan tangan, makanan dan kesenian nasyid. Masalah yang terjadi disana seperti ada beberapa yang terkena keterbelakangan mental, kubu keagamaan namun tidak mengarah pada konflik, lahan kosong  yang tak terawat (menimbulkan ulat bulu yang meresahkan dan menjadi gangguan bagi warga setempat).

Suhu dan gejala politik disana cukup normal, tidak ada konflik, mobilisasi massa, politisasi dan respons masyarakat terhadap pengaruh pemilu dan pilkada cukup objektif dan tidak terbawa arus kepentingan politik. Karakter warga Leuwianyar cukup ramah dan permissif, namun sebagian besar yang eksklusif terhadap dunia luar. Hal tersebut disebabkan oleh tidak adanya kegiatan bersama yang dapat melahirkan interaksi yang erat, toleran dan bekerj-sama.

Bandung, 06 juni 2012

BCCF & TIM ADVOKASI KAMPUNG KREATIF

Hiruk-Pikuk Kampung Edukatif Dago Pojok

In tulisan kreatif on June 14, 2012 at 4:45 am

Hiruk-Pikuk Kampung Edukatif Dago Pojok

Di utara kota bandung, berdekatan dengan curug dago yang menjadi tempat wisata air terjun sungai dan jalan Dago yang merupakan jalur strategis di kota bandung, disanalah kampung Dago Pojok berada. Di sana terdapat kampus-kampus besar seperti Unpad dan STKS juga hotel-hotel besar. Jalanan kecil padat-macet, gang-gang sempit, rumah berhimpitan, saluran air terbatas dan pepohonan jarang begitulah bentuk ruangnya. Dago Pojok adalah kampung yang berwajah muram di balik kasak kusuknya aktivitas para mahasiswa dan warga yang mencari nafkah disana. Hiruk pikuk sehari-hari di dago pojok adalah fenomena para warga dan mahasiswa yang berkuliah di kampus-kampus setempat. Namun, rata-rata warganya jarang berinteraksi satu sama lain. Ada kesenjangan yang terpendam antara yang kaya dan yang miskin, juga antara yang mahasiswa dan non mahasiswa dimana ini menjadi kendala bagi Dago Pojok untuk keluar dari segala lumpur persoalan berupa kemiskinan, pengangguran, keterbatasan pendidikan, kesemrawutan ruang kampung, dan ketakpedulian antar warga. Rata-rata warga Dago Pojok adalah pekerja kasar yang tak tentu seperti pembantu, tukang ojek, pegawai toko dan pengangguran. Separuhnya lagi bekerja sebagai mahasiswa, pedagang kios dan dosen. Diantara warga belum terjadi kebersamaan dalam menutaskan persoalan yang ada dan langkah bersama untuk memajukan kampung. Walaupun kini berdiri kampus dan pusat belajar, tapi belum mampu merubah wajah Dago Pojok menjadi kampung wisata, seni dan pusat pendidikan seperti yang dicita-citakan oleh salah satu lembaga pembelajaran “TABOO” yang telah menyelenggarakan berbagai kegiatan mulai dari belajar, kursus keterampilan dan launcing kampung wisata yang masih ala kadarnya. Hal ini disebabkan belum tumbuhnya kesadaran warga setempat untuk bersama-sama bahu-membahu membangun kampung, khususnya kampus-kampus besar yang menjadi gudang para sarjana yang seharusnya memiliki peran terhadap pengabdian kepada masyarakat sekitarnya.

Tetapi sebagian dari warga Dago Pojok mulai tumbuh kesadarannya untuk berpikir dan melangkah ke arah membangun kampung sebagai pusat budaya dan pengembangan ekonomi selaras dengan upaya yang coba dibangkitkan oleh “TABOO” & Bandung Creative City Forum (BCCF) dengan kegiatan Kampung Kreatifnya  secara perlahan. Sebagian warga mulai dari anak-anak, remaja dan orang tua antusias berkumpul menjalankan kegiatan belajar seperti kejar paket persamaan SD, SMP, SMA, kursus membatik, kreativitas daur ulang, urban farming, kesenian tradisi dan festival kampung seni. Sebagian warga tersebut berkumpul di sebuah rumah berukuran 4mx5m untuk belajar dan kursus keterampilan juga berlatih kesenian tradisi seperti menari dan musik calung di rumah beberapa warga. Selain itu, mereka juga bergotong royong dalam menata saluran air dan membersihkan kampung jika hendak menyelenggarakan kegiatan bersama seperti festival seni. Dari wajah-wajah mereka memantul sinar perubahan akan masa depan yang lebih baik. 

Bandung, 8 Juni 2012

BCCF & TIM ADVOKASI KAMPUNG KREATIF

“Layar Tancap Pinggiran Rel Cicukang”, sebuah catatan tentang program Kampung Kreatif Cicukang.

In tulisan kreatif on May 27, 2012 at 2:01 pm

LAYAR TANCAP PINGGIRAN REL CICUKANG

Dipinggir rel kereta yang lalu lalang puluhan anak-anak,remaja dan para orang tua berbondong-bondong menuju layar yang dibentangkan di gang sempit selebar 3,5 langkah di depan rumah warga kampung Cicukang. Malam ini akan digelar film layar tancap yang kedua kalinya yang berjudul Laskar Pelangi yang berkisahkan perjuangan anak-anak desa dalam menghadapi sukarnya mendapatkan kesempatan bersekolah, disebabkan minim dan mahalnya sarana belajar yang memadai di Pulau Belitung. Hal itu berbeda tipis dengan keadaan anak-anak dan remaja Cicukang yang rata-rata sukar mengenyam pendidikan di sekolah yang bersarana kurang memadai di kota Bandung. Para warga yang akan menonton sangat riang dan bersemangat mendekati tempat pemutaran film. Dari wajah dan gerak-gerik mereka terpancar sukacita berbalut kerinduan yang mendalam pada suasana dan nuansa yang sukar ditemui di tengah zaman yang canggih dan serba mahal masa kini. Karena pemutaran film massal seperti itu sudah hilang pada masa kini selain harus pergi ke bioskop yang komersil dengan harga tak terjangkau. Memang belasan tahun silam layar tancap menjadi hiburan primadona sekaligus media pergumulan bagi masyarakat dari segala kalangan di kampung-kampung dan perkotan di tanah air. Namun, seiring berkembangnya teknologi yang merubah pula gaya hidup membuat layar tancap kehilangan ruang di tengah kehidupan masyarakat. Kehadiran tv, internet dan handphone yang tersebar luas di samping mutu layanan yang ditampilkannya mengikis ruang perjumpaan manusia secara nyata, dekat, langsung dan massal. Dampaknya, kini pergaulan semakin senjang di tengah khalayak. Orang-orang mengalami keterbatasan berbicara dan bertatap muka disebabkan penghematan dan mahalnya biaya menggunakan sarana berhubungan antar manusia. Berbeda dengan suasana “Pemutaran Film Layar Tancap” dan kegiatan massal lainnya yang terjangkau bagi masyarakat dari segala kalangan seperti yang terjadi di Kampung Cicukang. Pemutaran film layar tancap di akhir pekan ini menarik minat warga Cicukang dari segala batas usia dan latar belakang.

Sebelum pemutaran film yang dimulai pukul 20.10, acara diawali dengan pemutaran video konser dangdut yang mengundang warga yang menyebut kampung mereka dengan istilah “Kampung Lokomotiv”. Warga berbondong-bondong melangkah sambil bertatap wajah, berbincang, berhenti lalu berjoget mengikuti irama musik dangdut saat menuju tempat pemutaran film. Selama 20 menit menunggu pemutaram film Laskar Pelangi, para penonton menikmati video musik dangdut sambil berjoget ala Cicukang. Saat pemutaran film berlangsung, para penonton yang sebagian besar remaja, anak-anak dan beberapa orang tua tampak berbincang sesekali, kemudian berlalu-lalang mencari tempat yang dirasa nyaman untuk menikmati pemutaran film. Tempat yang sempit dan sangat sederhana di gang sempit depan rumah dan kios kecil tidak menyurutkan upaya menyaksikan film yang digelar. Beberapa diantaranya ada yang menonton dari rel kereta, dari teras rumah dan di atas hamparan tikar. Para penonton cukup terpukau dan terharu dengan cerita film yang mewakili pula nasib mereka di tengah sulitnya menjangkau pendidikan yang layak. Setelah film berakhir, para panitia yang juga remaja kampung Cicukang, bekerja sama membereskan, membersihkan dan menata tempat pemutaran film seperti semula ketika pemutaran film akan dilakukan dengan dibantu pula oleh beberapa ibu-ibu. Setelah itu, para remaja berkumpul guna membahas kegiatan-kegiatan yang akan memajukan kampung Cicukang ke depan. Mereka antusias membahas upaya-upaya kesenian yang produktif dan inovatif mulai dari musik dapur, kegiatan belajar kelompok, pelatihan tari, kajian sastra dan pelatihan teater dimana semua itu akan menjadi unsur peningkatan taraf hidup warga kampung Cicukang. Tempat di pinggir rel tersebut menjadi pusat berkumpul malam minggu ini bagi warga “Kampung Lokomotiv”.

Dari peristiwa “Pemutaran Film Layar Tancap” di Kampung Cicukang tersebut, kita dapat menemukan kembali hal-hal yang sangat berharga seperti keguyuban, suasana hiruk pikuk yang unik di perkampungan padat pinggir rel kereta yang bising dan mengancam lalu lintas manusia, rasa riang untuk menghilangkan kejenuhan, semangat tolong menolong dalam mempersiapkan segala yang berkaitan dengan kebutuhan hidup bersama, tenggang rasa, mengembangkan denyut perniagaan lewat wisata kesenian, penghematan energi seperti listrik dan biaya transportasi bila harus keluar kampung guna menikmati hiburan di akhir pekan, pemeliharaan ketertiban, kebersihan dan keindahan lingkungan serta hal-hal lain yang bisa memacu masyarakat menciptakan ruang daya cipta yang lebih baik. Hal itulah yang kini tergerus dari kebiasaan hidup masyarakat khususnya warga kampung Cicukang yang harus ditinjau dan dibangkitkan kembali ruang karya cipta untuk peningkatan taraf hidupnya.

Bandung, 26 Mei 2012

BCCF & Tim Advokasi Kampung Kreatif

Kampung Seni Lokomotif Cicukang

In tulisan kreatif on May 18, 2012 at 3:01 am

KAMPUNG SENI LOKOMOTIF CICUKANG

Malam itu pukul 20.47 kita tiba di kampung Cicukang untuk menggelar nonton film layar tancap bersama di lapangan pinggir rel kereta api pinggiran kampung Cicukang. Para warga yang terdiri dari anak-anak, remaja, ibu-ibu dan bapak-bapak sangat antusias berkumpul menunggu pemutaran film masa perang pasca proklamasi berjudul serangan umum 11 maret di yogyakarta. Suasana begitu riuh dan ramai saat persiapan peralatan pemutaran film. Para penonton yang sebagian besar anak-anak dan ibu-ibu segera mendekat ke belakang proyektor, langsung duduk merapat seperti semut menggerogoti manisan. Beberapa saat ketika film dimulai, suasana riuh berubah menjadi hening sebab adegan awal film mampu memukau penonton. Sepertinya ada kerinduan pada suasana masa lalu, ketika pemutaran film layar  tancap sedang marak-maraknya 14 tahun yang lalu. Cerita film terus berlalu dengan suasana perang  yang makin menegangkan, meski kadang-kadang kereta melintas sampai 4 kali di tengah-tengah pemutaran film berlangsung, namun para penonton tetap fokus pada cerita film. Suara kereta yang gaduh dan berbahaya sudah menjadi bagian suasana keseharian warga di cicukang yang tidak begitu risau dan was-was tak layaknya kita yang baru dan masih jarang kesana. Di tengah film berlangsung tiba-tiba gerimis turun, namu para penonton film tidak bubar. Begitulah jalannya pemutaran film yang disambut begitu antusias oleh warga kampung lokomotiv Cicukang.

Hasil observasi ke-1

Suasana kampung: ramai, padat, bising(dekat rel kereta), dinamis, liar, guyub,

Bentuk kampung: rumah padat, gang sempit, pinggir rel kereta, dekat pasar, sekitar pabrik, sepanjang rel kereta api tampang remang sebab pencahayaan sangat minim.

Peranan keorganisasian: kepengurusan ada tapi belum efektif, tidak adanya keterlibatan perempuan

Pekerjaan warga: buruh, pedagang

Kesenian: nasyid, rebana, kasidah,calung(vakum),sandiwara sunda(vakum),musik dapur

Pendidikan: SMP ,SD

Masalah: pernah terjadi beberapa kali tawuran dengan suporter sepak bola di atas kereta yang lewat. Adegan saling lempar sampai menimbulkan korban luka serius

Karakter warga: cukup ramah, keras

Kecenderungan: kumpul tiap sore di rel kereta dan antusias melihat kereta lewat, anak-anak terbiasa bermain dan menjadikan rel kereta sebagai ruang bermain

Program yang sedang berjalan: mural di dinding rumah warga, masih di beberapa rumah yang dekat dengan rel(10%), nonton film bersama yang pertama

Kamis, 17 Mei 2012
Bandung Creative City Forum/BCCF
Tim Advokasi Kampung Kreatif

Fenomena Kampung Akustik

In tulisan kreatif on May 18, 2012 at 2:49 am

(c) galih sedayu-bccf

Fenomena Kampung Akustik

Di belakang pasar cicadas tepatnya di belakang rumah sakit santo yusuf, disanalah para urban berkumpul dalam menjalani hari-hari penuh warna seperti warna-warna yang terlukis pada gambar (mural) di tembok depan rumah mereka yang menghipnotis setiap pengunjung dengan semangat keindahan dan dinamika dari realita hidup yang sangat berkesan. Dari mural rata-rata gambar bercerita tentang musik, seperti gambar gitar yang dan orang bermain gitar, disamping gambar lambang viking yang lebih besar, teks-teks tentang kebersamaan dan gambar pepohonan, bunga dan tanaman. Perkampungan tampak sepi, gang-gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh sepeda motor, gerobak sampah, gerobak tiga roda dan orang-orang yang hilir mudik menuju tujuan dari segala hiruk pikuk. Wajah-wajah yang ramah, penuh canda dan sesekali bernyanyi memeluk waktu yang setia menemani dalam setiap nuansa. Musik, lukisan, sajak dan peristiwa adalah jamuan bahasa mereka kepada setiap orang yang berkunjung. Seperti musik Queen, musik etnis sunda, balada, sajak jenaka menyatu dengan rasa kopi hitam, teh manis dan rangginang di beranda rumah sambil sesekali menghisap rokok. Kadang-kadang mereka terbahak-bahak saat ada bagian obrolan yang dirasa lucu dan aneh meski wajah dan ekspresi mereka tidak begitu ceria. Semua itu selayang wajah kampung yang kini diberi nama “kampung akustik” yang dimotori oleh beberapa seniman, akademisi, aktivis sosial dan warga setempat. Berbeda dengan keadaan 2 bulan sebelumnya, dimana kebiasaan para remajanya yang sering menenggak minuman keras dan melakukan tindakan premanistik.

Senyum kesederhanaan adalah jawaban dari sulitnya ekonomi sementara waktu ketika pekerjaan mapan susah sekali didapatkan. Mengamen, berjualan di pasar, mengayuh becak, mencipta lagu, menjadi kuli pasar ataupun buka warnet meski bangkrut pun adalah bentuk dari optimisme kemandirian dari warga kampung akustik di tengah asingnya pendidikan dan mahalnya barang kebutuhan masa kini. Status pendidikan dan minimnya keahlian tidak membuat langkah mereka surut untuk terus menggapai buah-buah keringat walaupun harus “berjudi dengan peluang” seperti yang kini coba diupayakan oleh kang Diat seorang diantara warga “Kampung Akustik”. Ia sedang mengupayakan karya ciptaannya berupa lagu sunda, namun dia tidak begitu mengharapkan hasil yang maksimal dari karyanya tersebut. Baginya, hasil tidaklah begitu penting, yang penting ia punya usaha dan eksistensi dalam berkesenian. Karya dapat disebarkan ke publik pun ia sudah cukup bangga. Demikian halnya dengan warga kampung akustik lainnya yang rata-rata sama tidak punya pekerjaan tetap dan penghasilan yang terjamin seperti profesi pns, polisi, tentara dan pejabat publik yang upah dan penghasilannya sudah cukup, stabil bahkan di atas rata-rata. Penghasilan dari ngamen, parkir, menarik becak, kuli angkut pasar dan melukis yang omzetnya tidak pasti dan cenderung tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari apalagi kebutuhan rekreasi dan hiburan. Sehingga bagi mereka, hiburannya adalah berkumpul sambil berkelakar, bernyanyi, melukis mural di tembok-tembok, membersihkan gang dan selokan dari sampah. Kondisi lingkungan yang padat, jalan sempit, dekat hiruk pikuk pasar dan tembok pembatas gedung tinggi dan panjang mempengaruhi pula karakter dan tingkah laku yang keras, tegang, liar dan bebas lepas pada sebagian diantara mereka. Hal tersebut dapat dilihat dari lirik-lirik lagu yang dinyanyikan, dimana ada kegundahan pada kondisi ruang dan peristiwa. Seperti kalimat; “hujan terlampau jarang turun di tanah kita yang cadas, hingga kerikil tajam menyiksa mata saat memandang”.

Diantara pemuda disana masih terdapat kubu-kubu, namun tidak menjadi hal yang bersifat permusuhan ataupun konflik internal. Para pemuda terbiasa berkumpul di depan kios-kios dan beranda rumah di gang-gang salah satu diantara mereka sambil berkelakar untuk mengisi waktu kosong dan mengusir jenuh. Rata-rata pemuda di kampung kreatif hanya mengenyam sekolah formal sampai SMP dan SMA. Sebagian besar pemudanya adalah suporter PERSIB yang akrab disebut viking.
Begitulah keadaan warga kampung akustik sementara ini, yang terus berjuang dengan sangat antusias pada kesenian khusunya gambar dan musik, dimana warga mengharapkan kampung akustik menjadi kampung wisata seni yang akan mampu mendongkrak taraf hidup menjadi beradab dan sejahtera.

Bandung, 16 mei 201
Bandung Creative City Forum/BCCF
Tim Advokasi Kampung Kreatif

Mengangkat Kota Lewat Komunitas Kreatif

In tulisan kreatif on June 6, 2011 at 4:18 am
Mengangkat Kota Lewat Komunitas Kreatif
Oleh Rochmat Darodjat
Mengorganisir puluhan anggota dalam satu kelompok saja tidaklah gampang. Lebih-lebih mengatur puluhan komunitas dalam satu organisasi, bisa dibayangkan bukan main sulitnya. Apalagi para anggotanya orang-orang cerdas kreatif yang dituntut punya ego tinggi untuk menghasilkan cipta karya orisinil.  Tapi, sesulit apa pun itu bukan hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Bandung Creative City Forum adalah satu contoh bagusnya. Melalui organisasi yang lebih dikenal dengan nama BCCF itu berbagai komunitas kreatif Bandung menyatu dan berjalan seiringan untuk maju bersama. Bandung Creative City Forum sendiri lahir pada awal 2008 lalu. Awalnya hanya organisasi biasa  yang berdiri cukup dengan nama dan punya anggota. Seiring dengan waktu dan kebutuhan kerjasama dengan pihak-pihak lainnya, mereka pun sepakat untuk membentuk sebuah organisasi yang berbadan hukum yang disusul kemudian pemilihan ketua periode pertama yakni Ridwan “Emil” Kamil.
Meski baru berumur jagung, BCCF sudah menorehkan sejarah dengan penyelenggaraan kegiatan bernama Helarfest di Bandung dua tahun berturut-turut(2008 dan 2009). Helarfest merupakan salah satu program BCCF dalam bentuk unjuk kreatifitas anak-anak bangsa dari mulai festival, workshop, pameran, kompetisi hingga pertunjukkan.  Adapun tujuan akhir penyelenggaran itu sendiri untuk menjadikan Bandung sebagai kota kreatif dengan kompetensi internasional.
BCCF pun menjadi penyelenggara event Semarak!Bandung yang merupakan kegiatan kolaboratif antar komunitas dalam upaya mengembalikan ruang publik kota Bandung yang semakin langka. Kegiatan yang dilaksanakan pada Juli 2010 itu diramaikan dengan berbagai aktifitas. Dari mulai instalasi lampu di Gedung Merdeka, payung berlampu di pinggiran Sungai Cikapundung, Piknik BandungBragakeun Bragaku, sampai video mapping (animasi) berdurasi 15 menit dengan layar bangunan Gedung Merdeka sebagai penutup rangkaian acara Semarak!Bandung.
So, teruslah berkreasi. Jayakan Bandungmu dan Bandungku!!!

Memimpikan Bandung Menjadi Kota Dunia oleh Ridwan Kamil

In tulisan kreatif on April 28, 2011 at 2:01 am

Memimpikan Bandung Menjadi Kota Dunia

oleh Ridwan Kamil

”Saya benci Bandung”, kata seorang  pengusaha Jakarta di Sabtu sore. ”Semrawut, makin panas, sering macet dan sistem lalu lintasnya sering berubah, membingungkan”.  Itulah sekelumit citra negatif yang sering diutarakan oleh sebagian pelancong dari luar kota. Terutama ketika mereka datang di akhir pekan.

”Kami menyukai Bandung”, ujar beberapa pelancong yang dijumpai di jalan Dago. ”Kotanya masih teduh, sekolahnya bagus-bagus, dekat dengan  suasana pegunungan, anak-anak mudanya kreatif dan wisata belanjanya menyenangkan”.  Cukup melegakan mendengar pujian mereka tentang Bandung.

Itulah yang terjadi. Bandung adalah paradoks. Kadang dirindu. Kadang dibenci. Bandung disukai karena suasana santainya, namun digerutui karena kemacetannya. Didatangi karena kualitas universitasnya, namun ditinggalkan karena minim peluang berkarirnya. Dipuji karena banyak ahli kota dan arsiteknya, namun diejeki karena minimnya inovasi dan kesemrawutan kotanya

Bandung adalah persilangan sebuah kota yang kaya dengan arsitektur bersejarah dengan lingkungan alam Parahyangan yang menenangkan hati. Di Bandung banyaknya perguruan tinggi yang didukung oleh stabilitas sosial yang terbuka dan kondusif adalah konteks unik yang melahirkan budaya kosmopolitan global yang berbeda dengan konteks kental religius ala Bali atau konteks patuh tradisi alaYogya.

Kosmopolitan dan kontemporer adalah karakter khas Bandung. Irisan dan persilangan unik khas Bandung ini melahirkan banyak peluang, terutama yang berkaitan dengan kekuatan ekonomi yang lahir dari tingginya kreativitas dan inovasi generasi mudanya. Ekonomi yang lahir dari kekuatan berpikir. Dari kekuatan ’human capital’ atau yang sering disebut dengan istilah’creative economy’.

***

Di tatar Parahyangan ini banyak tersembunyi kegiatan-kegiatan ekonomi berbasis inovasi dan kreativitas tanpa banyak kita hapal. Di Bandung terdapat pusat-pusat riset teknologi seperti LIPI, Pusat mikroelektronika, RISTI, MDIC, Eckman Center, Batan dan Microsoft Innovation Center at ITB. Di kota kreatif ini pula terdapat perusahaan teknologi seperti Omedata semikonduktor, LEN, INTI, CMI telkom, Harif Tunggal telekomunikasi, Daya Engineering, Quasar telekom dan  PT Dirgantara.

Di Bandung pula, peluang-peluang ekonomi kreatif berbasis gaya hidup atau lifestyletumbuh subur.  Factory Outlet hadir dengan omset milyaran rupiah perbulan. Industri Distro (distribution store) anak muda Bandung  yang kosmopolitan   dengan desainclothing unik tumbuh dengan super cepat dan menjalar ke kota-kota lainnya.

Tidak heran, suasana kreatif dan alam yang unik di tatar Parahyangan ini membuat industri musik  pun berkembang. Grup musik terkenal seperti Peterpan, Seurieus, Mocca, Laluna, PAS, Rif, Elfa, Krakatau hadir berbarengan dengan belasan grup musik Indie seperti Changcuters, Burgerkill, Besides, Pure Saturday dan komunitas underground musik yang produktif di Ujung Berung. Galeri-galeri seni kelas internasional juga tumbuh pesat di bandung, seperti Galeri Barli, Galeri Sumarja, Galeri Jehan, Galeri Padi, dan Selasar Sunaryo yang aktif dengan kegiatan seni internasionalnya sebagai agenda agenda rutinnya.

Di dunia arsitektur, progresivitas berpikir dan desain eksperimental arsitek-arsitek Bandung  cukup jauh meninggalkan kota-kota lainnya. 70 persen-an pemenang sayembara nasional arsitektur selalu dari Bandung. Prestasi ini terjadi karena suasana komunitas, dialog dan iklim akademiknya yang kondusif dan inspiratif. Tahun 2007 URBANE menjadi satu-satunya firma kecil dari Bandung yang masuk 10 besar arsitek Indonesia verisi BCI awards, yang mengukur kerberhasilan firma arsitektur dari kuantitas nilai bisnisnya. Bahkan pemenang pertamaYoung Design Entrepreneur of the Year dari British Council, dimenangkan oleh warga Bandung 2 tahun beruturut-turut.

***

Di sisi lain, salah satu syarat menjadi kota kelas dunia adalah kualitas infrastruktur fisik kota dan ruang publiknya. Inilah kelemahan kota Bandung. Tidak ada kemajuan yang berarti dari segi pembanguan fisik dan sarana kota kecuali jembatan Pasupati. Sarana kota seperti Stadion Siliwangi yang sudah uzur, taman-taman kota yang tidak jelas konsepnya, Gelora Saparua yang sudah tidak layak pakai, adalah contoh-contoh buruknya. Dari sudut pandang prasarana, tragedi konser musik di Braga menjadi salah satu bukti, bagaimana aspirasi dan antusiasme kegiatan ekonomi kreatif tidak terwadahi oleh tempat yang layak.

Pemerintah kota dan propinsi seharusnya bisa melihat bagaimana investasi di fasilitas publik dengan arsitektur progresif bisa mengangkat ekonomi kota melompat ke level internasional. Seperti halnya kehadiran Museum Guggenheim di kota Bilbao Spanyol yang berdiri di bekas stasiun yang terbengkalai. Karena publikasi yang mendunia, sekitar empat jutaan pelancong datang ke kota tersebut hanya untuk melihat keunikan museum yang dirancang oleh superstar arsitek Frank Gehry. Jutaan pelancong itulah dalam 4 tahun yang membawa devisa 14 trilyun rupiah ke kota industri di Spanyol ini. Kesimpulannya, arsitektur publik yang baik dan progresif, seperti halnya Esplanade di Singapura atau Sydney Opera House di Australia, mampu menyumbangkan devisa yang besar bagi ekonomi kotanya.

Di sisi lain, pemerintah seringkali tidak mampu menahan pihak-pihak swasta yang tidak bertanggung jawab untuk berinvestasi namun merusak fisik kota Bandung atas nama investasi dan pertumbuhan ekonomi.  Rencana Babakan Siliwangi yang akan dikomersilkan,  kawasan Punclut yang digerus, beberapa Factory Outlet di Dago yang merusak karakter arsitektur Art Deco dan melanggar sempadan adalah contoh-contohnya.

Karenanya jangan heran jika banyak orang-orang pintar pergi dari Bandung setelah mereka lulus. Mereka hanya menumpang lewat. Mereka tidak melihat iklim kota Bandung dan sarana kotanya cukup kondusif untuk melakukan inovasi-inovasi dan bisnis yang selayaknya.  Sementara otak-otak kreatif yang tinggal dan berbisnis di Bandung hanya bisa  menggerutu dan bertahan semampunya tanpa bantuan dan dukungan yang signifikan dari pemerintah,

***

Kekuatan Bandung terbesar ada pada aset kualitas manusianya. Inilah kekuatan Bandung di masa depan.  Inilah tiket bersaing global. Jangan sampai ribuan orang-orang kreatif dan pintar ini selalu pergi ke Jakarta atau Singapura setelah mereka lulus sekolah di Bandung, Mereka harus diakomodasi untuk berbisnis dan berkarir di Bandung. Mereka harus distimulasi untuk mencintai kota Bandung.

Karenanya pemerintah harus berinvestasi dengan 2 cara. Pertama, investasi dalam bentuk dukungan instrumen kebijakan ekonomi yang kondusif dan jangka panjang. Instrumen ini untuk mendorong investasi ekonomi kreatif mengalir dan eksis di Bandung. Sehingga orang-orang kreatif dan pintar dari luar kota pun mau dan tertarik untuk pindah ke Bandung dengan membawa kapital, ide-ide kreatif atau inovasi-inovasi bisnisnya.

Kedua, pemerintah harus berinvestasi memperbaiki infrastruktur dan sarana kota. Memperbaiki lalu lintas, memperbanyak gedung-gedung pertunjukan atau galeri, memelihara dan mempercantik bangunan-banguan bersejarah, berinovasi dalam ruang hijau kota atau menyuntikkan seni dalam penataan kawasan kota. Ingat, kreativitas dan inovasi mudah lahir dari wadah yang inspiratif.

Persaingan dunia bukan lagi antar negara, tapi antar kota.  Karena itulah strategi-strategi perencanaan kota yang inovatif  sudah dilakukan oleh kota London, Glasgow, Taipei, Singapura, Bangalore, Buenos Aires dalam merespon ekonomi baru ini. Kebijakan ekonomi kreatif yang responsif dan peningkatan kualitas sarana kota, bersatu kompak bagai dua sisi dalam satu koin uang. Pemerintah kota Bandung sudah saatnya berpikir inovatif diluar norma-norma standar pengelolaan kota-kota Indonesia. Kita harus berpikir dan berinovasi seperti kota-kota dunia.

”Bandung Kota Dunia” bukanlah hanya mimpi. Kita sudah punya modal awal yaitu aliran sumber daya manusia yang kreatif dan kompetitif berkelas dunia. Modal ini harus disempurnakan dengan kualitas sarana kota yang berkelas dunia pula. Inilah reposisi dan wajah baru  Bandung di era milenium. Wajah baru yang menyempurnakan era Bandung sebagai wajah pemersatu Asia Afrika tahun 1955.  Jangan biarkan mimpi ini mati sebagai mimpi. Mari sama-sama bekerja keras menghadiahkan masa depan yang indah untuk generasi cucu kita.