bccfbdg

Posts Tagged ‘kampung kreatif’

Artikel Berita Program BdgCreACTive (Road to Kampung Kreatif 2012) di Koran Pikiran Rakyat – Kamis 28 Juni 2012

In artikel & berita on June 29, 2012 at 3:45 am

Sumber : Koran Pikiran Rakyat – Kamis 28 Juni 2012

Artikel Berita Program Akupuntur Kota / Kampung Kreatif BCCF di Koran Pikiran Rakyat – Senin 25 Juni 2012

In artikel & berita on June 26, 2012 at 1:55 pm

Sumber : Koran Pikiran Rakyat (c) bccf

Kompilasi Artikel Berita Kampung Kreatif Dago Pojok di Media

In foto program on June 23, 2012 at 5:04 am

(c) galih sedayu – 2012

Bisnis Indonesia (1)
http://www.bisnis.com/articles/kampung-kreatif-festival-bandung-creactive-2012-digelar

Bisnis Indonesia (2)
http://www.bisnis.com/articles/kampung-kreatif-digagas-bandung-creative-city-forum

Bandung Media
http://www.bandungmedia.com/interaksi/dari-redaksi/201206/road-to-kampung-kreatif-dago-pojok-diramaikan-1-000-peserta/

Pikiran Rakyat
http://www.pikiran-rakyat.com/node/191741

Inilahjabar.com (1)
http://www.inilahjabar.com/read/detail/1868224/dago-pojok-pusat-acara-kampung-kreatif-2012

Inilahjabar.com (2)
http://www.inilahjabar.com/read/detail/1870225/kembangkan-kaulinan-barudak-di-kampung-kreatif

Inilahjabar.com (3)
http://www.inilahjabar.com/read/detail/1870229/pemkot-akan-perbaiki-infrastruktur-kampung-kreatif

Metrotvnews.com
http://www.metrotvnews.com/read/news/2012/06/09/94156/Ingat-Dulu-Dulu-Datang-ke-Festival-Kaulinan-Barudak/3

Koran Jakarta
http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/92607

Detik Bandung (1)
http://bandung.detik.com/read/2012/06/04/130556/1932045/486/road-to-kampung-kreatif-2012-libatkan-puluhan-warga-dago-pojok

Detik Bandung (2)
http://bandung.detik.com/read/2012/06/09/181214/1937161/486/peralatan-permainan-tradisional-akan-disimpan-di-dago-pojok

Bandung Tourism
http://bandungtourism.com/events_year_i.php?id=2182&databulanmulai=6&datatahunmulai=2012

Universitas Padjajaran
http://www.unpad.ac.id/archives/56381

Suave Magazine
http://www.suavemagz.com/archives/3775

Bisnisjabar.com (1)
http://bisnis-jabar.com/index.php/berita/foto-permainan-tradisional-ramaikan-festival-bandung-creactive-2012-di-dago-pojok

Bisnisjabar.com (2)
http://bisnis-jabar.com/index.php/berita/foto-lomba-mewarnai-layangan-ramaikan-festival-bandung-creactive-2012-di-dago-pojok

Bisnisjabar.com (3)
http://bisnis-jabar.com/index.php/berita/pemkot-bandung-dukung-festival-bandung-creactive-2012

 

NTMC Polri
http://ntmc-korlantaspolri.blogspot.com/2012/06/infrastruktur-kawasan-dago-pojok.html

Antara
http://www.antarafoto.com/bisnis/v1339225513/kampung-kreatif

Galamedia
http://www.klik-galamedia.com/1000-anak-nikmati-kaulinan-barudak

Tribun Jabar
http://jabar.tribunnews.com/2012/06/09/masyarakat-senang-ikuti-festival-kaulinan-barudak

Bandungnewsphoto.com
http://www.bandungnewsphoto.com/?content=seni-budaya&op=view&id=102366993

Tribun News
http://www.tribunnews.com/2012/06/09/festival-kaulinan-barudak-diramaikan-14-sd

Portal Bandung
http://www.portalbandung.com/bisnis/item/143-bandung-pusat-kampung-industri-kreatif.html

 

LEUWIANYAR SEPI TERKUNGKUNG – Catatan Singkat Program Kampung Kreatif BCCF

In tulisan kreatif on June 14, 2012 at 4:49 am

Leuwianyar Sepi Terkungkung

Suasana kampung yang sepi dari interaksi, aman, normal, cukup kental dengan nuansa keagamaan yang ritualistis (fenomena orang-orang berkerudung dan pengajian rutin di masjid) itulah wajah sebuah kampung yang bernama Leuwianyar di bagian selatan kota Bandung. Bentuk dan denah kampung Leuwianyar adalah gang sempit, berdampingan dengan perumahan, di tengah jalan raya (kopo dan Leuwipanjang), dekat terminal transportasi darat antar kota dan provinsi (Terminal Bus Leuwipanjang). Hal itu menunjukan bahwa kampung Leuwianyar berlokasi strategis karena  berada di sekitar pusat ekonomi yang berdaya jangkau besar dan pesat di kota Bandung. Namun hal itu tidak berpengaruh bagi kampung dan warga Leuwianyar yang terisolasi oleh kemajuan kota tersebut.  Warga Leuwianyar rata-rata bekerja sebagai buruh pabrik, wiraswata (home industri; tempe, tas, siomay), guru komputer, bahasa inggris dan pedagang keliling. Hal tersebut disebabkan oleh faktor pendidikan sebagian besar warga yang hanya lulusan SMA dimana skilnya sangat terbatas dan susah bersaing di dunia kerja. Para warga juga memiliki keterbatasan untuk menjangkau peluang untuk memajukan diri yang tidak tersedia disebabkan minimnya program pemberdayaan masyarakat.

Peranan keorganisasian di Leuwianyar kini sedang vakum karena belum ada yang menggerakkan secara total dan intensiv pada kegiatan-kegiatan yang dapat membina masyarakat ke arah memajukan kampung dan pertumbuhan ekonomi warga setempat. Kegiatan ekonomi masih berjalan sendiri-sendiri dengan keuntungan seadanya yang hanya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Padahal bila dilakukan pengelolaan ekonomi secara berkelompok seperti usulan salah satu tokoh masyarakat (Pak Didin) disana, yaitu koperasi yang rencananya akan dibangun bersama oleh warga Leuwianyar, tentu akan dapat merubah dan memajukan taraf hidup warga Leuwianyar. Warga Leuwianyar memiliki potensi dalam ritual keagamaan (islam), pencaksilat, home industri kerajinan tangan, makanan dan kesenian nasyid. Masalah yang terjadi disana seperti ada beberapa yang terkena keterbelakangan mental, kubu keagamaan namun tidak mengarah pada konflik, lahan kosong  yang tak terawat (menimbulkan ulat bulu yang meresahkan dan menjadi gangguan bagi warga setempat).

Suhu dan gejala politik disana cukup normal, tidak ada konflik, mobilisasi massa, politisasi dan respons masyarakat terhadap pengaruh pemilu dan pilkada cukup objektif dan tidak terbawa arus kepentingan politik. Karakter warga Leuwianyar cukup ramah dan permissif, namun sebagian besar yang eksklusif terhadap dunia luar. Hal tersebut disebabkan oleh tidak adanya kegiatan bersama yang dapat melahirkan interaksi yang erat, toleran dan bekerj-sama.

Bandung, 06 juni 2012

BCCF & TIM ADVOKASI KAMPUNG KREATIF

Hiruk-Pikuk Kampung Edukatif Dago Pojok

In tulisan kreatif on June 14, 2012 at 4:45 am

Hiruk-Pikuk Kampung Edukatif Dago Pojok

Di utara kota bandung, berdekatan dengan curug dago yang menjadi tempat wisata air terjun sungai dan jalan Dago yang merupakan jalur strategis di kota bandung, disanalah kampung Dago Pojok berada. Di sana terdapat kampus-kampus besar seperti Unpad dan STKS juga hotel-hotel besar. Jalanan kecil padat-macet, gang-gang sempit, rumah berhimpitan, saluran air terbatas dan pepohonan jarang begitulah bentuk ruangnya. Dago Pojok adalah kampung yang berwajah muram di balik kasak kusuknya aktivitas para mahasiswa dan warga yang mencari nafkah disana. Hiruk pikuk sehari-hari di dago pojok adalah fenomena para warga dan mahasiswa yang berkuliah di kampus-kampus setempat. Namun, rata-rata warganya jarang berinteraksi satu sama lain. Ada kesenjangan yang terpendam antara yang kaya dan yang miskin, juga antara yang mahasiswa dan non mahasiswa dimana ini menjadi kendala bagi Dago Pojok untuk keluar dari segala lumpur persoalan berupa kemiskinan, pengangguran, keterbatasan pendidikan, kesemrawutan ruang kampung, dan ketakpedulian antar warga. Rata-rata warga Dago Pojok adalah pekerja kasar yang tak tentu seperti pembantu, tukang ojek, pegawai toko dan pengangguran. Separuhnya lagi bekerja sebagai mahasiswa, pedagang kios dan dosen. Diantara warga belum terjadi kebersamaan dalam menutaskan persoalan yang ada dan langkah bersama untuk memajukan kampung. Walaupun kini berdiri kampus dan pusat belajar, tapi belum mampu merubah wajah Dago Pojok menjadi kampung wisata, seni dan pusat pendidikan seperti yang dicita-citakan oleh salah satu lembaga pembelajaran “TABOO” yang telah menyelenggarakan berbagai kegiatan mulai dari belajar, kursus keterampilan dan launcing kampung wisata yang masih ala kadarnya. Hal ini disebabkan belum tumbuhnya kesadaran warga setempat untuk bersama-sama bahu-membahu membangun kampung, khususnya kampus-kampus besar yang menjadi gudang para sarjana yang seharusnya memiliki peran terhadap pengabdian kepada masyarakat sekitarnya.

Tetapi sebagian dari warga Dago Pojok mulai tumbuh kesadarannya untuk berpikir dan melangkah ke arah membangun kampung sebagai pusat budaya dan pengembangan ekonomi selaras dengan upaya yang coba dibangkitkan oleh “TABOO” & Bandung Creative City Forum (BCCF) dengan kegiatan Kampung Kreatifnya  secara perlahan. Sebagian warga mulai dari anak-anak, remaja dan orang tua antusias berkumpul menjalankan kegiatan belajar seperti kejar paket persamaan SD, SMP, SMA, kursus membatik, kreativitas daur ulang, urban farming, kesenian tradisi dan festival kampung seni. Sebagian warga tersebut berkumpul di sebuah rumah berukuran 4mx5m untuk belajar dan kursus keterampilan juga berlatih kesenian tradisi seperti menari dan musik calung di rumah beberapa warga. Selain itu, mereka juga bergotong royong dalam menata saluran air dan membersihkan kampung jika hendak menyelenggarakan kegiatan bersama seperti festival seni. Dari wajah-wajah mereka memantul sinar perubahan akan masa depan yang lebih baik. 

Bandung, 8 Juni 2012

BCCF & TIM ADVOKASI KAMPUNG KREATIF

“Layar Tancap Pinggiran Rel Cicukang”, sebuah catatan tentang program Kampung Kreatif Cicukang.

In tulisan kreatif on May 27, 2012 at 2:01 pm

LAYAR TANCAP PINGGIRAN REL CICUKANG

Dipinggir rel kereta yang lalu lalang puluhan anak-anak,remaja dan para orang tua berbondong-bondong menuju layar yang dibentangkan di gang sempit selebar 3,5 langkah di depan rumah warga kampung Cicukang. Malam ini akan digelar film layar tancap yang kedua kalinya yang berjudul Laskar Pelangi yang berkisahkan perjuangan anak-anak desa dalam menghadapi sukarnya mendapatkan kesempatan bersekolah, disebabkan minim dan mahalnya sarana belajar yang memadai di Pulau Belitung. Hal itu berbeda tipis dengan keadaan anak-anak dan remaja Cicukang yang rata-rata sukar mengenyam pendidikan di sekolah yang bersarana kurang memadai di kota Bandung. Para warga yang akan menonton sangat riang dan bersemangat mendekati tempat pemutaran film. Dari wajah dan gerak-gerik mereka terpancar sukacita berbalut kerinduan yang mendalam pada suasana dan nuansa yang sukar ditemui di tengah zaman yang canggih dan serba mahal masa kini. Karena pemutaran film massal seperti itu sudah hilang pada masa kini selain harus pergi ke bioskop yang komersil dengan harga tak terjangkau. Memang belasan tahun silam layar tancap menjadi hiburan primadona sekaligus media pergumulan bagi masyarakat dari segala kalangan di kampung-kampung dan perkotan di tanah air. Namun, seiring berkembangnya teknologi yang merubah pula gaya hidup membuat layar tancap kehilangan ruang di tengah kehidupan masyarakat. Kehadiran tv, internet dan handphone yang tersebar luas di samping mutu layanan yang ditampilkannya mengikis ruang perjumpaan manusia secara nyata, dekat, langsung dan massal. Dampaknya, kini pergaulan semakin senjang di tengah khalayak. Orang-orang mengalami keterbatasan berbicara dan bertatap muka disebabkan penghematan dan mahalnya biaya menggunakan sarana berhubungan antar manusia. Berbeda dengan suasana “Pemutaran Film Layar Tancap” dan kegiatan massal lainnya yang terjangkau bagi masyarakat dari segala kalangan seperti yang terjadi di Kampung Cicukang. Pemutaran film layar tancap di akhir pekan ini menarik minat warga Cicukang dari segala batas usia dan latar belakang.

Sebelum pemutaran film yang dimulai pukul 20.10, acara diawali dengan pemutaran video konser dangdut yang mengundang warga yang menyebut kampung mereka dengan istilah “Kampung Lokomotiv”. Warga berbondong-bondong melangkah sambil bertatap wajah, berbincang, berhenti lalu berjoget mengikuti irama musik dangdut saat menuju tempat pemutaran film. Selama 20 menit menunggu pemutaram film Laskar Pelangi, para penonton menikmati video musik dangdut sambil berjoget ala Cicukang. Saat pemutaran film berlangsung, para penonton yang sebagian besar remaja, anak-anak dan beberapa orang tua tampak berbincang sesekali, kemudian berlalu-lalang mencari tempat yang dirasa nyaman untuk menikmati pemutaran film. Tempat yang sempit dan sangat sederhana di gang sempit depan rumah dan kios kecil tidak menyurutkan upaya menyaksikan film yang digelar. Beberapa diantaranya ada yang menonton dari rel kereta, dari teras rumah dan di atas hamparan tikar. Para penonton cukup terpukau dan terharu dengan cerita film yang mewakili pula nasib mereka di tengah sulitnya menjangkau pendidikan yang layak. Setelah film berakhir, para panitia yang juga remaja kampung Cicukang, bekerja sama membereskan, membersihkan dan menata tempat pemutaran film seperti semula ketika pemutaran film akan dilakukan dengan dibantu pula oleh beberapa ibu-ibu. Setelah itu, para remaja berkumpul guna membahas kegiatan-kegiatan yang akan memajukan kampung Cicukang ke depan. Mereka antusias membahas upaya-upaya kesenian yang produktif dan inovatif mulai dari musik dapur, kegiatan belajar kelompok, pelatihan tari, kajian sastra dan pelatihan teater dimana semua itu akan menjadi unsur peningkatan taraf hidup warga kampung Cicukang. Tempat di pinggir rel tersebut menjadi pusat berkumpul malam minggu ini bagi warga “Kampung Lokomotiv”.

Dari peristiwa “Pemutaran Film Layar Tancap” di Kampung Cicukang tersebut, kita dapat menemukan kembali hal-hal yang sangat berharga seperti keguyuban, suasana hiruk pikuk yang unik di perkampungan padat pinggir rel kereta yang bising dan mengancam lalu lintas manusia, rasa riang untuk menghilangkan kejenuhan, semangat tolong menolong dalam mempersiapkan segala yang berkaitan dengan kebutuhan hidup bersama, tenggang rasa, mengembangkan denyut perniagaan lewat wisata kesenian, penghematan energi seperti listrik dan biaya transportasi bila harus keluar kampung guna menikmati hiburan di akhir pekan, pemeliharaan ketertiban, kebersihan dan keindahan lingkungan serta hal-hal lain yang bisa memacu masyarakat menciptakan ruang daya cipta yang lebih baik. Hal itulah yang kini tergerus dari kebiasaan hidup masyarakat khususnya warga kampung Cicukang yang harus ditinjau dan dibangkitkan kembali ruang karya cipta untuk peningkatan taraf hidupnya.

Bandung, 26 Mei 2012

BCCF & Tim Advokasi Kampung Kreatif

STUDIA HUMANIKA : Diskusi & Pameran Konsep Kampung Kota dengan tema “Kampung Kota, Harapan Ruang Publik”

In informasi program on May 27, 2012 at 1:44 pm

Sampurasun

Bandung Creative City Forum (BCCF) bekerjasama dengan YPM Salman ITB mengundang sahabat komunitas di salah satu program Akupuntur Kota (Kampung Kreatif 2012) yaitu

STUDIA HUMANIKA
Diskusi & Pameran Konsep Kampung Kota

TEMA
“Kampung Kota, Harapan Ruang Publik”

TEMPAT
Simpul Space II BCCF / Boemi Nini
Jalan Purnawarman No 70
Bandung

LATAR BELAKANG 
Bandung adalah wajah kota besar Indonesia yang terus bertumbuh dengan pesat. Sebagai sebuah kota, Bandung (dan juga kota-kota besar lainnya) senantiasa membutuhkan ruang publik. Secara umum, ruang publik adalah ruang yang secara fisik maupun sosial dapat diakses oleh setiap warga kota, apapun latar belakang sosial-budaya maupun agamanya, untuk rupa-rupa kegiatan.

Pertumbuhan kota-kota besar di Indonesia sayangnya cenderung berpihak kepada masyarakat kelas menengah ke atas, dan meminggirkan masyarakat menengah ke bawah. Akibatnya fungsi ruang publik semakin melemah di perkotaan. Contoh yang paling gamblang adalah menyusutnya area-area terbuka seperti lapangan dan taman kota di Bandung. Area-area tersebut kerap beralih fungsi menjadi pusat perbelanjaan, kompleks permukiman atau perkantoran yang notabene hanya diperuntukkan bagi kalangan atas.

Namun, di tengah kecenderungan pertumbuhan seperti itu, masih ada harapan akan munculnya ruang-ruang publik di perkotaan. Harapan ini muncul dari wilayah-wilayah yang terselip di antara glamornya gedung-gedung perkotaan. Masyarakat di wilayah ini masih memiliki keterikatan sosial sedemikian rupa, yang mencirikan perkampungan tradisional. Karena itu, wilayah-wilayah yang terselip ini dapat disebut sebagai “kampung kota”.

Diskusi ini diharapkan dapat membangun pemahaman bersama tentang keberadaan, potensi dan permasalahan kampung kota. Pemahaman kolektif tersebut diharapkan dapat menjadi stimulus bagi para aktivis, pemerintah, dan masyarakat, untuk menghasilkan gagasan-gagasan segar terkait kemasyarakatan dan ruang publik di perkotaan.

MATERI & PEMBICARA
1. “Politik Warga dan Fenomena Sosial Ruang Publik di Kampung Kota” 
SETIAJI PURNASATMOKO
Kamis (31/05) pkl. 14-16 WIB
2. “Ruang Publik dan Seni Publik” 
YASRAF AMIR PILIANG
Jumat (01/06) pkl. 15.30-18 WIB
3. “Sejarah dan Budaya Kampung Kota” 
JAKOB SOEMARDJO
Sabtu (02/06) pkl. 15.30-18 WIB
4. “Ruang Ketiga di Kota Bandung” 
DHIAN DAMAJANI
Kamis (07/06) pkl. 14-16 WIB
5. “Dampak Media pada Psikologi Masyarakat Kampung Kota” 
HAWE SETIAWAN
Jumat (08/06) pkl. 15.30-18 WIB
6. “Kreativitas dan Humanitas dalam Kampung Kota” 
PRIMADI TABRANI
Sabtu (09/06) pkl. 15.30-18 WIB

FASILITAS
Acara ini terbuka untuk umum dan gratis. Namun peserta akan memperoleh sertifikat, handout (jika disediakan pembicara), dan snack jika membayar biaya pendaftaran.

PENDAFTARAN 
Langsung ke Sekretariat DPP Salman ITB setiap hari pukul 10:00-17:00 WIB. Biaya pendaftaran Rp. 50.000,00 (Lima Puluh Ribu Rupiah).

Informasi lebih lanjut, kontak Anis (0857-941-73686) atau kirimkan e-mail ke: studia.humanika@salmanitb.com.

Bandung CreACTive : Road to Kampung Kreatif 2012 ; Kampung Dago Pojok – Sabtu 9 Juni 2012

In informasi program on May 19, 2012 at 2:27 am

Sampurasun

Mahasiswa Humas A 2009 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran bekerjasama dengan Bandung Creative City Forum (BCCF) mengundang sahabat komunitas di program

Bandung CreACTive 
Road To Kampung Kreatif 2012

TEMPAT
Kampung Dago Pojok
Bandung
Indonesia

WAKTU
Sabtu 9 Juni 2012
Pukul 09.00 s/d 22.00 WIB

AGENDA
Festival Kaulinan Barudak
Festival Layang-Layang

PENGISI ACARA
Saung Angklung Udjo
Rumah Musik Harry Roesli (RMHR)
Karinding Riot
Seni Kampung Kreatif

RUNDOWN ACARA
* Panggung

Waktu Durasi Acara
07.00 Registrasi Peserta Lomba SD + layangan
07.30 – 08.15 45′ Pembukaan (iring-iringan)
08.16 – 08.21 5′ Sambutan ketua pelaksanaan
08.22 – 08.27 5′ Sambutan ketua jurusan
08.28 – 08.33 5′ Sambutan perwakilan pihak Dago Pojok
08.34 – 08.39 5′ Sambutan perwakilan pihak BCCF
08.40 – 08.47 7′ Sambutan perwakilan pihak Rektorat
08.48 – 08.55 7′ Sambutan Walikota Bandung
08.56 – 09.03 7′ Sambutan Menteri Perindustrian
09.04 – 09.11 7′ Sambutan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
09.12 – 09.20 8′  Ceremony pembukaan acara yang dipimpin oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif beserta Menteri Perindustrian
09.21 – 09.30 9′ MC menyapa pengunjung dan memperkenalkan area Bandung CreactiveMC memberitahukan kegiatan pembukaan Kaulinan Barudak di area kaulinan barudak
10.00 – 10.30 30′ Performance Jaipong dari Dago Pojok
10.31 – 10.36 15′ Performance Calung dari Dago Pojok
10.37 – 11.00 23′
  • MC membaur dengan pengunjung sambil mempertunjukan permainan-permainan khas
  • Kuis interaktif
11.01 – 11.31 30′ Penampilan RT 07 (Celempung)
11.32 – 11.38 6′ Penampilan dari SD
11.39 – 11.45 6′ Penampilan dari SD
11.46 – 12.30 74′ Isoma
12.31 – 12.37 6′ Penampilan dari SD
12.38 – 12.44 6′ Penampilan dari SD
12.45 – 12.51 6′ Penampilan dari SD
12.52 – 12.58 6′ Penampilan dari SD
12.59 – 13.05 6′ Penampilan dari SD
13.06 – 13.12 6′ Penampilan dari SD
13.13 – 13.19 6′ Penampilan dari SD
13.20 – 13.26 6′ Penampilan dari SD
13.27 – 13.33 6′ Penampilan dari SD
13.34 – 13.40 6′ Penampilan dari SD
13.41 – 13.47 6′ Penampilan dari SD
13.48 – 14.48 60′ Penampilan penduduk Dago Pojok
14.49 – 15.20 31′ Break + isoma
15.21 – 16.01 40′ Performance Reog dari Dago Pojok
16.02 – 16.32 30′ Performance Karinding Riot
16.33 – 17.03 30′ Performance RMHR
17.04 – 17.13 7′ Performance Pencak Silat Saung Angklung Udjo
17.14 – 17.29 15′ Pengumuman perlombaan (Oleh personil pencak silat Saung Angklung Udjo)
17.30 – 17.50 20′ Performance Saung Angklung udjo (Angklung Arumba)

* Festival Layangan & Kaulinan

Waktu Durasi Acara Lokasi
07.00 Registrasi Peserta Lomba SD + layangan Area Permainan Tradisional
07.30 – 08.15 45′ Pembukaan (iring-iringan) Panggung
08.16 – 08.21 5′ Sambutan ketua pelaksanaan Panggung
08.22 – 08.27 5′ Sambutan ketua jurusan Panggung
08.28 – 08.33 5′ Sambutan perwakilan pihak Dago Pojok Panggung
08.34 – 08.39 5′ Sambutan perwakilan pihak BCCF Panggung
08.40 – 08.47 7′ Sambutan perwakilan pihak Rektorat Panggung
08.48 – 08.55 7′ Sambutan Walikota Bandung Panggung
08.56 – 09.03 7′ Sambutan Menteri Perindustrian Panggung
09.04 – 09.11 7′ Sambutan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Panggung
09.12 – 09.20 8′  Ceremony pembukaan acara yang dipimpin oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif beserta Menteri Perindustrian Panggung
09.21 – 09.56 35′ Pembukaan Kaulinan Barudak

  • Penampilan Gondang (20′)
  • Penampilan Kawihan (15′)
Area Permainan Tradisional
09.57 – 10.27 30′ Demonstrasi Kaulinan Barudak Area Permainan Tradisional
10.28 – 10.58 30′ Lomba kaulinan barudak grup 1,2,3 Area Permainan Tradisional
10.59 – 11.29 30′ Lomba kaulinan barudak grup 4&5 Area Permainan Tradisional
11.30 – 12.00 30′ Lomba kaulinan barudak grup 6&7 Area Permainan Tradisional
12.01 – 12.30 29′ Isoma All Area
12.31 – 13.01 30′ Lomba kaulinan barudak grup 8&9 Area Permainan Tradisional
13.02 – 13.32 30′ Lomba kaulinan barudak grup 10&11 Area Permainan Tradisional
13.33 – 14.03 30′ Lomba kaulinan barudak grup 12&13 Area Permainan Tradisional
14.04 – 14.25 21′ Persiapan parade layangan Area Layangan
14.26 – 14.35 9′ Pembukaan parade layangan Area Layangan
14.36 – 15.20 44′ Isoma All Area
15.21 – 16.21 60′ Mulai menggambar layangan Area Layangan
16.22 – 17.02 40′ Penerbangan layangan Area Layangan
17.03 – 17.13 10′ Pemindahan konsentrasi ke area panggung Venue
17.14 – 17.30 26′ Pengumuman lomba kaulinan barudak Panggung
Pengumuman lomba lukis layangan Panggung

INFO LANJUT
Bandung Creative City Forum/BCCF
Simpul Space II
Jalan Purnawarman 70
Bandung
Telp/fax: (62-22) 253 4746
Email : bccf.bdg@gmail.com
Blog : http://www.bandungcreativecityforum.wordpress.com
Twitter @BCCF_bdg

Artikel Berita program pendukung Kampung Kreatif hasil kolaborasi Fakultas Ilmu Komunikasi UNPAD & BCCF

In artikel & berita on May 18, 2012 at 10:52 am

http://bandung.detik.com/read/2012/05/17/143008/1919232/486/humas-a-fikom-unpad-akan-menggelar-bandung-creactive

Bandung – Mahasiswa Humas A 2009 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran bekerjasama dengan Bandung Creative City Forum (BCCF) akan menggelar ‘Bandung CreACTive : Road To Kampung Kreatif 2012’. Kegiatan tersebut akan digelar Sabtu (9/6/2012) mendatang di Kampung Dago Pojok.

Chief of Public Relations, Levana Kharisma Utami mengatakan, acara menampilkan seni dan budaya ini memiliki dua konten utama.

“Yang pertama festival Kaulinan Barudak, yang kedua festival Layang-Layang. Untuk melengkapi event ini, kami juga menghadirkan pentas seni budaya sebagai bentuk apresiasi kami terhadap kegiatan seni dan budaya yang sudah dilakukan para pegiat seni di Kota Bandung,” ujar Levana saat dihubungi detikbandung, Kamis (17/5/2012).

Levana menambahkan, Bandung CreACTive ini merupakan salah satu kegiatan pendukung program ‘Kampung Kreatif’. “Ini merupakan implementasi dari program ‘Akupunktur Kota’. Tujuannya sebagai pemberdayaan kreatifitas warga kampung-kampung urban di kota yan diharapkan bisa membantu pemberdayaan ekonomi masyarakat di kota Bandung,” terang Levana.

Festival Kaulinan Barudak yang akan diadakan dalam event ini bertujuan untuk memperkenalkan permainan tradisional Jawa Barat yang merupakan warisan budaya yang menarik dan bermanfaat bagi perkembangan anak-anak.

Konten acara ini akan dilengkapi dengan dua area utama, yang pertama adalah Area Bermain dan Area Pameran. Sedangkan Festival Layang-Layang merupakan kompetisi pengekspresian ragam kreatifitas melalui salah satu kegiatan permainan yang mungkin sudah dianggap kuno namun tetap menarik.

Gelaran ini juga akan dimeriahkan oleh penampilan dari Saung Angklung Udjo, Rumah Musik Harry Roesli (RMHR), Karinding Riot dan Penampilan Seni Kampung Kreatif. Selain itu, akan ada pentas seni budaya dengan menampilkan berbagai kesenian tradisional yang ditawarkan kampung-kampung kreatif.

Tidak hanya itu, Bandung CreACTive memiliki Area Bazaar, dimana pada area ini akan dipamerkan berbagai kreasi industri-industri kreatif dan juga kuliner khas Kampung Kreatif yang dapat dinikmati oleh seluruh pengunjung. 

Kampung Seni Lokomotif Cicukang

In tulisan kreatif on May 18, 2012 at 3:01 am

KAMPUNG SENI LOKOMOTIF CICUKANG

Malam itu pukul 20.47 kita tiba di kampung Cicukang untuk menggelar nonton film layar tancap bersama di lapangan pinggir rel kereta api pinggiran kampung Cicukang. Para warga yang terdiri dari anak-anak, remaja, ibu-ibu dan bapak-bapak sangat antusias berkumpul menunggu pemutaran film masa perang pasca proklamasi berjudul serangan umum 11 maret di yogyakarta. Suasana begitu riuh dan ramai saat persiapan peralatan pemutaran film. Para penonton yang sebagian besar anak-anak dan ibu-ibu segera mendekat ke belakang proyektor, langsung duduk merapat seperti semut menggerogoti manisan. Beberapa saat ketika film dimulai, suasana riuh berubah menjadi hening sebab adegan awal film mampu memukau penonton. Sepertinya ada kerinduan pada suasana masa lalu, ketika pemutaran film layar  tancap sedang marak-maraknya 14 tahun yang lalu. Cerita film terus berlalu dengan suasana perang  yang makin menegangkan, meski kadang-kadang kereta melintas sampai 4 kali di tengah-tengah pemutaran film berlangsung, namun para penonton tetap fokus pada cerita film. Suara kereta yang gaduh dan berbahaya sudah menjadi bagian suasana keseharian warga di cicukang yang tidak begitu risau dan was-was tak layaknya kita yang baru dan masih jarang kesana. Di tengah film berlangsung tiba-tiba gerimis turun, namu para penonton film tidak bubar. Begitulah jalannya pemutaran film yang disambut begitu antusias oleh warga kampung lokomotiv Cicukang.

Hasil observasi ke-1

Suasana kampung: ramai, padat, bising(dekat rel kereta), dinamis, liar, guyub,

Bentuk kampung: rumah padat, gang sempit, pinggir rel kereta, dekat pasar, sekitar pabrik, sepanjang rel kereta api tampang remang sebab pencahayaan sangat minim.

Peranan keorganisasian: kepengurusan ada tapi belum efektif, tidak adanya keterlibatan perempuan

Pekerjaan warga: buruh, pedagang

Kesenian: nasyid, rebana, kasidah,calung(vakum),sandiwara sunda(vakum),musik dapur

Pendidikan: SMP ,SD

Masalah: pernah terjadi beberapa kali tawuran dengan suporter sepak bola di atas kereta yang lewat. Adegan saling lempar sampai menimbulkan korban luka serius

Karakter warga: cukup ramah, keras

Kecenderungan: kumpul tiap sore di rel kereta dan antusias melihat kereta lewat, anak-anak terbiasa bermain dan menjadikan rel kereta sebagai ruang bermain

Program yang sedang berjalan: mural di dinding rumah warga, masih di beberapa rumah yang dekat dengan rel(10%), nonton film bersama yang pertama

Kamis, 17 Mei 2012
Bandung Creative City Forum/BCCF
Tim Advokasi Kampung Kreatif