bccfbdg

Posts Tagged ‘Lewis Biggs’

Review & Foto Kegiatan Talk Show bersama Lewis Biggs @ Simpul Space BCCF – Jumat 28 Oktober 2011

In artikel & berita on October 30, 2011 at 1:21 pm

Talk Show with Lewis Biggs
”How art affects city development: engaging people, art and space to create a city”
at SimpulSpace, Jl. Dago 329, Bandung
Jumat, 28 Oktober 2011, pk.13:00-16:00

Creative Entrepreneur Network – Bandung Creative City Forum
British Council
  

==========

Acara ini dihadiri oleh lebih dari 50 peserta yang terdiri dari, antara lain, mahasiswa dan akademisi, pengusaha muda, dan berbagai komunitas kreatif di Bandung. Lewis Biggs yang tiba bersama tim dari British Council sekitar pk.13:30 memulai presentasinya dengan memaparkan mengenai Tate Gallery, yang merupakan sebuah galeri yang bukan diurus oleh pemerintah tapi oleh sebuah trust. Berikut ini adalah risalah acara tersebut.

Pada awalnya, Tate Gallery hanya terdapat di London, namun karena menurut masyarakat koleksi Tate adalah milik seluruh bangsa Britania Raya, bukan hanya terpusat di London saja, maka dibuatlah Tate di luar London, yaitu di Liverpool. Inilah awal berdirinyaTate Liverpool di tahun 1980an.

Liverpool pada awalnya merupakan kota pelabuhan yang merupakan lalu-lintas perdagangan, dan mendapatkan penghasilan utama dari aktivitas dagang tersebut, sementara hanya terdapat sangat sedikit pabrik manufaktur. Kesejahteraan kota ini terutama terlihat di abad ke-18, ketika perdagangan budak belian masih marak. Berlalu-lalangnya berbagai bangsa di kota ini dengan sendirinya juga menyebabkan tingginya angka imigran yang menetap.

Pada tahun 1950-1960an aktivitas perdagangan melalui pelabuhan menurun, sehingga pasar pun berkurang, menyebabkan mengkerutnya Kota Liverpool. Brand “Tate” yang lebih mengarah kepada hal-hal yang bersifat pusaka pada sekitar tahun 1988 kurang dapat langsung diaplikasikan pada masyarakat saat itu, yang kebutuhan utamanya adalah memperoleh mata pencaharian. Ini adalah tantangan utama bagi Lewis Biggs yang mengepalai Tate Gallery dari tahun 1990 hingga 2000. Selama menjalankan galeri tersebut, Biggs menyadari bahwa bangunan bukanlah hal yang baik untuk seni, karena sebagian besar dana akan tersedot untuk membangun, dan hanya akan tersisa sedikit untuk berkarya dan beraktivitas. Sehingga dalam masanya, ia selalu mengalokasikan kurang lebih 70% untuk karya dan aktivitas seni. Ia selalu ingin menciptakan ruang yang lebih baik bagi seniman untuk dapat hidup dan berkarya. Pada tahun 1991 ia menyelenggarakan festival seni yang pertama, karena menurutnya sebuah festival memberikan profil atau gambaran mengenai tema yang diusungnya saat itu, juga dapat menjadi ajang bagi masyarakat untuk membicarakan hal-hal yang biasanya tidak didiskusikan. Festival juga bertujuan membawa (karya) seni untuk ‘turun’ ke jalan.

Para politisi biasanya membuat suatu program budaya dengan alasan “untuk menciptakan lapangan pekerjaan”, yang menurut Biggs bukanlah sebuah alasan yang baik. Alasan terbaik adalah rasa cinta terhadap program budaya itu sendiri. Memang sebuah kota atau tempat yang memiliki festival atau aktivitas budaya yang meriah selalu berhasil menarik pengunjung dan pendatang, yang berdampak pada meningkatnya pendapatan lokal dan terciptanya berbagai lapangan pekerjaan, tapi, tegas Biggs, “Culture has to come first! Then the jobs”.

Liverpool berhasil menjadi European City of Culture pada tahun 2002 karena kecenderungan masyarakat Liverpool yang menyukai seni pertunjukan (performance), dan melakukannya di ruang-ruang publik. Namun pemerintah Kota Liverpool tetap sulit untuk berubah/ berpihak pada aktivitas seni, umumnya karena mereka tidak mau mengubah hal-hal yang selama ini telah berlangsung di struktur pemerintahan dan birokrasi, sehingga aktivitas seni dan budaya harus ditangani oleh pihak lain, yaitu entitas bisnis dan komunitas budaya.

Manusia selalu memenuhi kebutuhan dasarnya dulu. Bila semua itu telah terpenuhi, barulah berpikir mengenai “budaya”, dan inilah yang membentuk sebuah masyarakat. Inilah arti menjadi seorang warga sebuah kota. Biggs menutup presentasinya, ”A city is owned NOT by the government but by people who DO things in it.”

Setelah Lewis Biggs, giliran Ridwan Kamil, ketua Bandung Creative City Forum (BCCF), membawakan presentasinya mengenai Bandung sebagai Kota Kreatif dan berbagai aktivitas dan usaha BCCF dalam menciptakan kota yang lebih baik. Acara dilanjutkan dengan tanya-jawab, dan kemudian ditutup pada pk.16:00.

Lewis Biggs dan tim dari British Council kemudian mengunjungi Kampung Dago Pojok, yang pada pagi harinya diluncurkan sebagai Kampung Wisata, Edukasi dan Industri Kreatif. Rombongan ini diantar berkeliling oleh Rachmat Djabaril, inisiator dari pencanangan Kampung Wisata ini, yang masih ramai dengan aktivitas dan pertunjukan meskipun hari sudah tiba di penghujung sore, disertai hujan dan gerimis. Kampung ini merupakan contoh nyata sebuah inisiatif warga dalam menampilkan identitasnya dalam berbagai bentuk ekspresi (mural, produk dari limbah plastik, grup musik tradisional, grup tari, dsb), yang dapat menjadi kebanggaan tersendiri. (t ; cen-bccf)

(c) cen-bccf

PRESS RELEASE: Talk Show with Lewis Biggs, ”How art affects city development: engaging people, art and space to create a city”

In informasi program on October 28, 2011 at 12:56 am

PRESS RELEASE

 ==========

 Talk Show with Lewis Biggs

”How art affects city development:

engaging people, art and space to create a city”

 

at SimpulSpace, Jl. Dago 329, Bandung

Jumat, 28 Oktober 2011, pk.13:00-16:00

 

Creative Entrepreneur Network – Bandung Creative City Forum

British Council

 

==========

 

Di sela-sela persiapan salah satu programnya, British Council mengundang seorang tamu yang juga tokoh penting di bidang seni di akhir Oktober 2011 ini, yaitu Lewis Biggs, seseorang yang berperan besar dalam menciptakan Liverpool Biennale dan masih sangat berpengaruh di dunia seni Inggris. Lewis Biggs berhasil mengubah Liverpool, sebuah kota industri di Inggris, menjadi kota “berkesenian”. Dalam kunjungan Lewis Biggs ke Indonesia kali ini, Bandung menjadi salah satu kota tujuannya, mengingat reputasi Bandung sebagai salah satu kota kreatif di Indonesia. Kesempatan ini disambut baik oleh Creative Entrepreneur Network (CEN) – Bandung Creative City Forum (BCCF), untuk bertemu, berbagi dan mendiskusikan hal-hal yang berhubungan dengan kota kreatif, terutama bagaimana karya dan aktivitas seni dapat mengubah sebuah kota menjadi kota kreatif.

Jadwal acara:

13:00 Pendaftaran peserta di SimpulSpace, Jl. Dago 329
14:00 Pengantar dari British Council dan CEN-BCCF
14:15 Sesi presentasi dan diskusi Lewis Biggs
15:30 Presentasi M Ridwan Kamil
16:00 Penutupan di SimpulSpace

Mengunjungi Kampung Dago Pojok (seberang Hotel Sheraton)
https://bandungcreativecityforum.wordpress.com/2011/10/25/launching-pembentukan-kampung-wisata-edukasi-industri-kreatif/

Lewis Biggs

Director of Tate Liverpool (1990-2000)

Exhibition officer for the Visual Arts Department of the British Council (1984 to 1987)

Gallery Coordinator for Arnolfini Gallery, Bristol (1879 to 1984)

Co-founder of The Liverpool Biennial (1998)

 

CEN-BCCF

CEN merupakan salah satu divisi program dalam BCCF, diluncurkan pada tanggal 24 Mei 2009 di Bandung. Keberadaan CEN terutama adalah untuk mewadahi berbagai jenis wirausaha kreatif komunitas yang terdapat dalam BCCF, mengingat bahwa jenis wirausaha yang satu pasti berkaitan dengan yang lain, apalagi dalam konteks industri dan ekonomi kreatif yang telah berangsur-angsur terbangun mapan di Bandung.

Tujuan didirikannya CEN adalah untuk menjadi sebuah pusat berjejaring antar pelaku ekonomi kreatif, menyediakan acara-acara untuk berjejaring, membangun keterampilan dan pengetahuan bagi wirausahawan lokal melalui workshop, seminar, klinik bisnis, dan sebagainya, dan membuat kolaborasi dengan organisasi sejenis CEN di kota-kota di negara-negara lain yang juga memiliki jejaring komunitas dan industri kreatif.

Keanggotaan CEN, selain dari anggota BCCF yang memiliki wirausaha, juga terdiri dari IKM yang merupakan jejaring CEN-BCCF, pelajar dan mahasiswa, perusahaan yang berperan sebagai mitra dan pendukung, wirausaha pemula, dan masyarakat yang merupakan pengunjung, konsumen, dan komunitas kreatif.

Program dalam CEN terbagi menjadi jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang, antara lain adalah membuat inventarisasi wirausaha kreatif di Bandung dan sekitarnya, membuat acara-acara di mana para wirausahawan dapat bertemu dengan konsumen maupun klien, memberikan penghargaan dan membuat jejaring berbasis internet.

 

Talk Show with Lewis Biggs: ”How art affect city development: engaging people, art and space to create city”

In informasi program on October 27, 2011 at 2:30 am

Sampurasun.

Creative Entrepreneur Network – Bandung Creative City Forum (CEN-BCCF) and British Council

cordially invite you to

Talk Show with Lewis Biggs

” How art affect city development: engaging people, art and space to create city”

Let’s find out how art projects affected the development of Liverpool as a city, told directly by Lewis Biggs, who will share his experience in focusing on transformational art in the public realm.

Talk Show will held at
Simpul Space
Jalan Ir.H.Juanda (Dago) 329 Bandung
On Friday, October 28, 2011
13 .00 – 16.00 pm
All are welcome
Please Come on time!!!

*Lewis Biggs is Director of Tate Liverpool (1990-2000), exhibition officer for the Visual Arts Department of the British Council (1984 to 1987) and Gallery Coordinator for Arnolfini Gallery, Bristol (1879 to 1984), and also the co-founder of The Liverpool Biennial in 1998.

MORE INFO
Bandung Creative City Forum/BCCF
Jalan Ir.H.Juanda No 329
Bandung
Depan Dinas Peternakan Jabar
@Simpul Space
http://www.bandungcreativecityforum.wordpress.co